Ustaz Adi Hidayat: Hadiah Muhammadiyah untuk Umat Islam

Legenda Hidup Itu Bernama Adi Hidayat

Nama Adi Hidayat beberapa kali penulis dengar saat menjadi santri Ma’had Darul Arqam Muhammadiyah Garut. Adi Hidayat sudah 2 tahun lulus dari Ma’had Darul Arqam saat penulis baru menjadi santri di sana.

Beberapa ustaz dan kakak kelas menceritakan kehebatan alumni pondok satu ini. Selain pandai dalam ilmu agama dan umum, Adi Hidayat juga pandai dalam sepak bola dan tapak suci. Dalam organisasi pun, Adi Hidayat menempati posisi tertinggi di Ma’had dengan menjadi ketua Umum Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) periode 2002-2003.

Adi Hidayat diceritakan sebagai sosok jenius dan serba bisa, guna menjadi inspirasi bagi adik-adik kelas seperti penulis. Waktu itu belum ada media sosial, penulis hanya bisa tahu namanya tanpa tahu bagaimana rupa Adi Hidayat. Sosok tersebut hanya menjadi legenda hidup bagi para santri sepeninggal beliau.

Menginjak tingkat Aliyah, media sosial mulai muncul. Salah seorang kakak kelas penulis yang juga sepupu Adi Hidayat memberitahu akun Facebook beliau, namanya “Ulama Tafsir”. Wow, ngeri sekali nama akun FB-nya, tentu sangat berat menyandang gelar ulama tafsir. Namun penulis pikir, Adi Hidayat memang layak menyandang gelar ulama tafsir. Beberapa waktu kemudian, nama FB beliau menjadi normal, yakni Adi Hidayat.

Era media sosial membuat penulis tahu sosok Adi Hidayat, penulis juga sempat melihat ceramahnya yang diunggah di Youtube. Waktu itu, beliau masih menjadi mahasiswa di Kulliyah ad-Dakwah al-Islamiyah Libya. Beliau berceramah dengan bahasa Arab di hadapan para jamaah. Di sana, penulis melihat beliau ceramah.

Adi Hidayat juga sempat mengisi acara IPM di Ma’had saat penulis di tingkat Aliyah. Di sana, penulis bertemu secara langsung dengan beliau.

Takdir UAH Menjadi Ustaz Terkenal

Selepas lulus dari Ma’had, penulis melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. Waktu itu,  Ustaz Adi Hidayat sudah kembali ke Indonesia dari Libya. Beliau mengasuh pesantren Al-Quran di Lebak Bulus dan mendirikan lembaga Quantum Akhyar Institute. Penulis tahu karena selalu memantau media sosial beliau.

Saat penulis berada pada tingkat akhir kuliah, Ustaz Adi Hidayat sudah pindah ke Bekasi dan mengisi rutin di Masjid Al-Ihsan Jakapermai. Penulis menyimak ceramahnya yang menurut penulis beda dari yang lain. Apa yang membuat beda, terlihat Ustaz Adi Hidayat sangat menguasai Al-Qur’an dan hadis sampai hafal halaman, nomor, dan posisi teks dalam kitab. Waktu itu, yang merekam kajian adalah pihak DKM Masjid, lalu rutin diunggah ke youtube.

Saat itu, ada sebuah platform media sosial namanya Salingsapa. Bedanya dengan media sosial lain, Salingsapa juga berisi video-video ceramah dari banyak ustaz. Kebetulan, salah seorang senior penulis di kampus, bekerja di platform tersebut. Penulis memberitahukan kepada senior yang bekerja di Salingsapa, bahwa ada ustaz muda yang hebat, namanya Adi Hidayat.

Penulis berharap Ustaz Adi Hidayat bisa dimuat juga videonya di Salingsapa. Permintaan penulis hanya mendapat respon namun tidak mendapatkan tindak lanjut. Namun tentu Allah punya jalannya sendiri untuk mengorbitkan UAH. Video-video rekaman ceramah UAH di Masjid Al-Ihsan banyak yang memotong-motong untuk diunggah ulang. UAH kemudian menjadi cukup terkenal dan diundang di banyak tempat. UAH kemudian mendirikan kanal tersendiri yang bernama Akhyar TV. Dari sana, UAH semakin berkibar, UAH menjadi Dai tingkat nasional yang dikenal khalayak. Sekelas dengan Aa Gym atau Almarhum Zainuddin MZ.

Setiap pengajian yang diisinya, jamaah selalu membludak sampai ke luar masjid. UAH juga mempunyai sifat dermawan, beliau sering bersedekah baik kepada jamaah maupun kepada yang membutuhkan.

Adi Hidayat: Hadiah Muhammadiyah Untuk Umat Islam

Jika kita melihat perjalanan UAH sebelum menjadi ustaz terkenal, maka UAH dibesarkan dalam kultur Muhammadiyah. Paman UAH adalah seorang wakil ketua PW Muhammadiyah Jawa Barat. Enam tahun mondok di Ma’had Muhammadiyah. Saat kuliah di Libya, beliau juga menjadi penasehat PCI Muhammadiyah Libya. Penulis katakan bahwa UAH adalah produk Muhammadiyah. Namun hari ini, UAH bukan hanya milik Muhammadiyah, namun milik umat Islam.

Dalam konsep transformasi kader Muhammadiyah, dikenal tiga ranah kader, yakni persyarikatan, umat, dan bangsa. UAH memang bukan kader persyarikatan, namun UAH sudah menjadi kader umat. Sebagai warga Muhammadiyah, tentu kita boleh bangga telah melahirkan produk yang berkontribusi untuk umat Islam seluruhnya. Maka tak berlebihan kiranya jika penulis mengatakan bahwa UAH adalah hadiah Muhammadiyah untuk umat Islam di Indonesia.

Tentu saja namanya hidup, tidak mungkin berjalan mulus-mulus saja. Saat UAH mulai dikenal orang, beberapa ustaz Salafi men-tahdzir UAH sebagai Dai yang tidak boleh diikuti. Penulis tahu bahwa UAH sempat resah karena tahdzir tersebut. Akibat dari tahdzir tersebut, beberapa kali UAH ditolak untuk mengisi kajian. Namun semua itu telah dilewati, hari ini UAH masih eksis dalam belantara dakwah Indonesia.

Paham Agama dan Sikap Politik UAH

Karena sudah menjadi kader umat, ada beberapa pihak yang ingin menguji sejauh mana ke-Muhammadiyahan UAH. Penulis katakan bahwa jika kita ingin pendapat UAH 100% sama dengan majelis tarjih, mungkin kita akan kecewa. Namun penulis yakinkan bahwa spirit paham agama UAH dan sikapnya sejalan dengan Muhammadiyah. UAH pernah mengatakan, jika kita datang ke sebuah pengajian, lalu setelah ngaji kita menjadi keras dan menyalah-nyalahkan yang lain, maka tinggalkan pengajian tersebut.

Dalam ceramahnya soal hisab rukyat, UAH menjelaskan secara detail hisab dan rukyat, namun secara halus menggiring jamaah agar pro hisab dibanding rukyat. Baca Juga  Haji Fachrodin: ”Aku ini Tamatan Sekolah di Bawah Pohon Sawo” Dalam perkara niat salat, bagi UAH niat salat hanya dilafazkan bagi orang yang punya penyakit was-was. Artinya, selama tidak ada penyakit was-was, niat salat tak perlu dilafazkan.

Soal hukum musik, UAH juga berpendapat bahwa keharaman musik tidak mutlak, karena dalam Al-Qur’an diceritakan bahwa ada juga penyair-penyair baik yang diapresiasi. Syair pada zaman Nabi adalah serupa musik pada masa kini. Soal khilafah UAH berpendapat bahwa yang dimaksud menegakkan khilafah adalah menjadikan diri kita sebagai khalifah, bukan mendirikan sistem kenegaraan yang baru.

Soal sikap politik, penulis mencatat dalam beberapa momentum, UAH menunjukan keberpihakannya. UAH berpihak sesuai dengan kalangan Islam populis. Misalnya saat Pilkada DKI, UAH memilih Anies dan saat pilpres UAH memilih Prabowo. Hal ini membuat UAH tidak disukai di kalangan pendukung Ahok atau Jokowi. Namun yang perlu dicatat adalah UAH bukan ustaz politik, yang setiap hari kerjaannya bahas politik melulu.

Penulis melihat setelah momentum politik berlangsung, maka UAH kembali fokus membina umat. Saat momentum politik berjalan pun, sikap UAH tidak berlebihan dalam keberpihakannya. Karena itu penulis tetap respek dan hormat kepada beliau.

Sumber: https://ibtimes.id/ustaz-adi-hidayat-hadiah-muhammadiyah-untuk-umat-slam/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *