Ustadz Abdul Somad di Antara Pembela dan Pengkritiknya

0
918

Belakangan ini dunia medsos diramaikan dengan kontroversi seputar Ustadz Abdus Shomad (UAS). Bermula dari ditolaknya UAS untuk berceramah di Hongkong yang menyebabkan beliau harus kembali ke tanah air. Peristiwa ini segera menjadi viral dan memicu perdebatan antara lovers dan hater beliau.

Para penggemar beliau jelas sangat marah dengan kejadian ini. Bagi mereka ini adalah pelecahan terhadap UAS. Oleh karena itu harus dicari siapa dalang dari kejadian deportasi UAS yang akhirnya diganti oleh KH. Anwar Zahid. Muncullah isu bahwasanya dalang dari peristiwa tersebut adalah Luhut Binsar Panjaitan dan Said Aqil Siradj.

Tersebarlah isu tersebut melalui broadcast-broadcast yang dengan sangat cepat menyebar. Menanggapi tuduhan tersebut, pihak Said Aqil Siradj tentu saja berang. “Ini gue gak tau apa-apa kok ada yang nuduh begini” begitu mungkin ungkapan kyai Said dalam hatinya saat mengetahui ada isu ini. Akhirnya melalui SAS institute pihak Said Aqil mengeluarkan bantahan resmi bahwa pihaknya sama sekali tak tahu menahu soal kejadian yang menimpa UAS.

Para penggemar UAS di Indonesia mendesak pemerintah Indonesia untuk dapat menekan pemerintah Hongkong agar mengizinkan UAS masuk ke negaranya. Sayangnya jawaban Kemenlu sangat normatif, bahwasanya Hongkong punya aturan sendiri yang tidak bisa kita intervensi. Hal ini menyebabkan muncul isu baru, yakni Sultan Brunei Hasanah Bolkiah mengecam Hongkong dan membela UAS. Isu ini beredar dalam bentuk meme yang beredar di dunia maya.

Menanggapi meme ini para penggemar UAS cukup bangga dengan Sultan Brunei sekaligus kesal dengan pemerintah negerinya sendiri. “Tuh sultan Brunei aja membela, kemana nih presiden Jokowi? Kok diem aja?” Begitulah kira-kira aspirasi sebagian penggemar UAS di Indonesia. Belakangan kita tahu bahwa meme yang beredar terkait Sultan Brunei tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Sebenarnya ada juga tokoh politik kita yang membela UAS dan mendesak pemerintah RI untuk memperingatkan pemerintah Hongkong. Mereka adalah Zulkifli Hasan ketua MPR dan Fahri Hamzah wakil ketua DPR RI. namun beredar juga informasi bahwasanya sebab ditolaknya UAS adalah karena salah membuat visa. UAS membuat visa turis, padahal kedatangannya kesana untuk berceramah yang tentu akan mendapat bayaran. Maka seharusnya UAS membuat visa bisnis.

Sebelum heboh-heboh soal deportasi pemerintah Hongkong, ada satu peristiwa yang membuat UAS naik daun, yakni saat menjawab pertanyaan soal Rina Nose yang melepas jilbab. UAS jelas tidak setuju dengan sikap Rina Nose, namun yang membuat rame adalah saat UAS menyebut Rina Nose sebagai si pesek. Hal ini membuat banyak warganet menyerang balik UAS. menanggapi hal tersebut UAS berpendapat bahwa sombong terhadap orang sombong adalah sedekah.

Terlepas dari uraian di atas, saya fikir kita tetap harus memandang UAS secara proporsional sebagaimana perintah Allah QS. 5:8. Hari ini kita sudah terbagi menjadi dua kubu, yakni pecinta UAS dan pembenci UAS. Bagi saya hal ini tidak sehat, karena seringkali cinta dan benci yang berlebihan dapat menjerumuskan. Maka dari itu kita perlu melihat UAS dalam sebuah gambar yang utuh. Setelah itu ya silahkan kalau kita mau setuju atau tidak dengan dia, tanpa harus terjebak menjadi lovers atau haters UAS.

Dari segi keilmuan UAS tak perlu diragukan lagi, beliau menempuh S1 di Universitas Al Azhar Mesir dan S2 di Maroko. Artinya UAS bukanlah ustadz dengan modal baca kitab terjemahan. Beliau dapat membaca literatur Islam langsung dari sumber aslinya yang berbahasa Arab. UAS juga bukan orang yang belajar agama melalui kursus-kursus informal atau otodidak, dia adalah produk resmi dari lembaga pendidikan yang memang mencetak kader-kader ulama.

Walau berhasil menempuh pendidikan formal yang cukup tinggi, dan menjadi akademisi di UIN SUSKA Riau, namun UAS tetap berkiprah di masyarakat dengan menjadi mubaligh. Kebetulan dia punya kelebihan yakni pandai melucu saat ceramah. Hal inj membuat jamaah sangat nyaman dan menyukai ceramah-ceramah UAS. UAS ini jauh lebih lucu dari Ustadz Maulana yang terkenal dengan jamaah oh jamaahnya. Kalau di Bandung yang bisa melucu seperti ini ya Aa Gym. Atau kalau di zaman sekarang ada Ustadz Gaul Efie Effendy. Kalau di daerah Jawa Ustadz Anwar Zahid.

Soal pemahaman keagamaan, UAS mempunyai faham yang dianut oleh mayoritas muslim di Indonesia. Yakni Sunni, Asy’ari, Syafii atau kita bisa sebut dengan ahlu sunnah wal jamaah yang disingkat dengan aswaja. Salah satu ciri dari faham ini mengakui adanya bid’ah hasanah dalam fikih, berpendapat adanya sifat yang 20 bagi Allah dan mengakui adanya tasawuf yang muktabar seperti yang dicontohkan Imam Al Ghazali.

Adapun lawan dari faham aswaja ini adalah faham salafi yang sering diejek dengan sebutan wahabi. Berbeda dengan faham aswaja, dalam faham salafi tidak ada bid’ah hasanah, mengakui pembagian tauhid menjadi 3 ala Ibnu Taimiyah dan tidak terlalu mengapresiasi tasawuf. Karena perbedaan faham ini UAS pernah diserang oleh fans dari faham salafi.

Ceritanya UAS pada waktu itu mengatakan bahwa pemerintah Saudi meliburkan warganya dalam rangka maulid Nabi. Hal ini segera dibantah oleh fans dari faham salafi dan menyebut UAS sebagai tukang menyebar hoax. Dalam ceramah-ceramahnya UAS terkadang membahas ketidaksetujuan terhadap faham salafi. Hal ini membuat UAS diblacklist sebagai ustadz yang gak boleh diikuti ceramahnya versi kaum salafi wahabi.

Walaupun sangat jelas faham aswaja ini bersebrangan dengan faham salafi, namun bukan berarti dalam faham aswaja tidak ada friksi. Hari ini faham aswaja pun terbagi menjadi dua kutub besar, yakni kutub konservatif dan kutub progresif. Kutub konservatif cenderung berpegang pada pendapat yang lebih ketat, sebaliknya kubu progresif tak takut untuk membuat penafsiran baru yang lebih cocok dengan kondisi kekinian. Kata Ulil Abshar Abdalla dalam NU itu ada dua mazhab, pertama mazhab mbah Bisyri Syamsuri yang galak, kedua mazhab mbah Wahab Chasbullah yang santai.

UAS ini termasuk kubu konservatif atau mazhab mbah Bisyri bersama tokoh lain seperti Buya Yahya, Idrus Ramli, Habib Rizieq, Luthfi Bashori dll. Di kubu progresif atau mazhab mbah Wahab diisi mayoritas oleh tokoh-tokoh yang aktif di struktural pengurus PBNU hari ini. Merekalah para penerus dari Gus Dur, yaitu KH. Said Aqil Siradj, Gus Mus, Habib Luthfi Pekalongan, Ulil Abshar Abdalla, Zuhairi Misrawi dll. Karena perbedaan pandangan ini maka UAS juga kurang disukai oleh kubu progresif walau sama-sama pro tahlilan. Sebaliknya fans fanatik UAS juga sangat kesal dengan Said Aqil Siradj dkk. Bahkan membuat statement bahwa UAS lah yang pantas menjadi ketua PBNU, bukan SAS.

Setelah kita tahu peta dari pemikiran keIslaman yang ada sekarang dan posisi dimana UAS berdiri, maka selanjutnya kita juga bisa mengidentifikasi posisi dimana kita berdiri. Apakah kita termasuk orang yang memelihara tradisi alias konservatif, atau mendobrak tradisi alias progresif. Jika kita termasuk kelompok pertama maka pasti kita akan cocok dengan UAS. kalau kita termasuk kelompok kedua mungkin pendapat kita tidak akan selalu cocok dengan UAS. yang penting mau cocok atau tidak semua itu harus tetap disampaikan dalam kerangka akhlakul karimah dan motif ilmiah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here