Tentang Musik

0
96

Dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan iman hidup menjadi terarah, dengan seni hidup menjadi indah. Begitu kata guru pelajaran akidah saya saat masih di Aliyah dulu.

Kali ini saya akan coba bahasa seni yang konon membuat hidup jadi indah ini. Umur seni mungkin setua dengan peradaban manusia dengan berbagai macam bentuk dan jenisnya. Termasuk pada zaman dimana Nabi Muhammad SAW, waktu itu seni yang sedang populer adalah syair. Saking populernya para penyair ini sampai menjadi nama salah satu surat dalam Al Quran, Asy Syu’ara.

Al Quran membagi para penyair menjadi ada yang baik dan ada yang buruk. Hal ini terkandung dari konten syairnya. Jika membawa kepada keburukan maka buruk. Jika membawa kebaikan maka menjadi baik. Dalam film The Message karya Mustafa Akkad, digambarkan saat Nabi hijrah kaum Anshar menunggu sampai naik pohon kurma untuk melihat apakah Nabi sudah sampai atau belum. Saat Nabi sampai di Madinah kemudian kaum Anshar menyambut nabi dengan syair :”Thala’al badru ‘alainaa min tsaniyatil wadaa”.

Pada masa-masa berikutnya, tradisi bersyair ini masih berlanjut. Suatu hari Salahudin Al Ayyubi melihat ghirah umat Islam sedang turun. Akhirnya beliau berinisiatif membuat sayembara menulis biografi Nabi agar umat Islam kembali mengenang nabinya. Keluarlah Syaikh Al Barzanji sebagai pemenang, yang isinya adalah biografi dan pujian kepada dalam bentuk nazham sya’ir. “Ya Nabi Salam ‘alaika, Ya Rasul Salam ‘alaika. Anta syamsun anta badrun, anta nurum fauqa nurin”.

Selain syair, pada masa keemasan Islam banyak ilmuwan-ilmuwan yang mahir dalam seni musik. Musik pada waktu itu dianggap cabang dari filsafat dan matematika. Tercatat Ishaq Al Mausili (w. 850 M.) seorang muslim yang menemukan solmisasi do re mi fa so la si. Penemuan ini kemudian diadopsi oleh Guido Arezzo komponis asal Italia yang kemudian terkenal sebagai penemu dari solmisasi.


Pada masa modern musik tak lagi menjadi sekedar hiburan, musik juga berguna sebagai alat politik identitas. Setiap negara punya lagu kebangsaannya masing-masing. PKI punya lagu genjer-genjer yang menjadi identik dengan partai terlarang ini. Ormas pun punya lagu mars dan hymne nya masing-masing. Termasuk ormas saya yang punya lagu mars sang surya, sebuah lagu yang membuat menitikan air mata kalau dinyanyikan dengan sungguh-sungguh.

Sayangnya saya belum menemukan penjelasan yang memuaskan terkait originalitas lagu ini. Nada lagu ini diambil dari lagu A’thini Nay yang dinyanyikan Fairuz. Hanya liriknya uang diganti. Mirip dengan kasus lagu Sayang yang dinyanyikan NDX dan Via Vallen. Lagu ini mengambil dari penyanyi Jepang Kiroro yang berjudul Mirae.

Kebangkitan Islamisme pun tak lepas dari musik. Musik khas dari kelompok ini adalah nasyid. Nasyid berasal dari bahasa Arab artinya senandung atau lagu. Grup-grup nasyid pertama muncul dari Malaysia, yang terkenal misalnya Raihan dan Hijaz. Lalu muncul grup nasyid asal Indonesia yang naik daun juga yakni Snada. Bagi grup nasyid bermusik tak sekedar menghibur, namun juga berdakwah.

Grup nasyid yang seangkatan dengan Raihan dan Snada sangat kental nuansa ideologisnya. Generasi selanjutnya nasyid sudah mulai agak cair. Jika sebelumnya alat musik yang digunakan lebih dominan perkusi dan acappela, generasi selanjutnya sudah mulai menggunakan alat musik yang dipakai grup band seperti gitar, bass dan drum.

Generasi ini yang terkenal yaitu Gradasi dan Edcoustic. Di tangan dua grup ini nasyid menjadi lebih ringan namun tetap terdapat misi dakwah, walau tidak seideologis generasi sebelumnya. Jika pada generasi sebelumnya tema yang dibahas adalah soal keagamaan saja. Pada generasi ini tema cinta mulai masuk menghiasi syair musik nasyid.

Generasi pasca edcoustic saya melihat musik nasyid semakin hilang, dalam artian semakin lebur dengan musik yang ada sekarang. Pada generasi sebelumnya ada lagu muhasabah cinta yang saya sebut lagu ini lagu sejuta umat. Karena dalam setiap lomba nasyid lagu ini menjadi lagu wajib. Generasi sekarang belum ada lagi lagu yang se booming muhasabah cinta. Entah karena memang tidak ada, atau memang saya sekarang sudah tidak memperhatikan nasyid lagi.

Sekarang posisi nasyid digantikan oleh lagu pop religi internasional, yakni Maher Zain.

Jadi apakah musik itu haram? Ya kalau dengerin musik sambil mabok hukumnya haram. Kalau mendengarkan musik sampai lupa shalat hukumnya haram. Kalau tidak seperti itu musik hukumnya halal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here