Meninggalkan Perdebatan yang Tidak Bermanfaat

0
227

Perdebatan soal Allah bersemayam di atas ‘Arasy, Allah turun ke bumi, Tangan Allah di atas tangan mereka itu adalah perdebatan zaman dahulu yang harusnya sudah selesai.

Selesai di sini dalam artian para ulama sudah punya pendapat masing-masing terkait hal tersebut. Ada yang tafwidh dan ada yang takwil misalnya.

Anda mau pilih yang mana ya terserah saja. Yang jelas kalau terus dibahas itu akan mbulet, gak ketemu ujungnya dan malah menambah dosa.

Kenapa menambah dosa? Karena nanti terkadang orang yang meyakini satu pendapat dan menyalahkan pendapat lain, akan beranggapan ana khairun minhu.

Seperti yang terjadi sekarang, Ustadz Adi Hidayat mencoba menerangkan secara komprehensif perdebatan ulama kalam masa lalu. Tentu pada akhirnya adalah hak beliau untuk memilih kecenderungan beliau pribadi lebih sepakat yang mana.

Eh beredar potongan ceramah ust. Adi tentang hal tersebut lalu distempel lah bahwa ustadz Adi menentang Allah. Kan gob**k orang2 yang nyerang ustadz Adi tersebut. Tuh kan jadi nambah dosa, saya ngomong kasar soalnya.

Makanya daripada membahas hal yang sudah selesai mending kita perdebatkan hal yang belum selesai.

Misalnya kenapa orang barat dengan etika protestan bisa jadi negara maju? Orang Jepang dengan etika tokugawa juga bisa jadi negara maju? Orang china dengan etika kong hu cu bisa jadi negara maju?

Indonesia bangsa mayoritas muslim sampai sekarang masih mrnjadi negara berkembang. Pertanyaannya:

1. Etika apa sebenarnya yang dianut oleh mayoritas muslim ini sehingga kita masih jalan di tempat?

2. Kalau kita berasumsi bahwa karena mayoritas Islam maka pasti etika Islam mendominasi, bagaimanakah etika Islam yang difahami umat Islam?

3. Bagaimanakah etika Islam yang benar yang dapat menghantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa dan negara maju?

Memperdebatkan ini lebih berfaidah daripada berdebat soal Allah itu bertempat atau tidak bertempat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here