Teror Sinai dan Umat yang Denial

Jumat kelabu menyelimuti daerah Sinai, Mesir. Siang itu, selepas salat Jumat, sekelompok teroris menembaki warga sipil yang baru saja menunaikan ibadah di Masjid Ar-Raudah. 300 orang lebih tewas dan 100 orang luka-luka.

Para korban akhirnya dikuburkan secara massal karena kuantitasnya yang sangat banyak. Masjid yang menjadi pusat gerakan sufi tersebut menjadi saksi bisu akan kebiadaban manusia-manusia yang mengaku beragama, namun menghilangkan nyawa sesama.

Tentu saja peristiwa ini segera menjadi berita utama di seluruh dunia. Jika dibandingkan dengan teror-teror yang sejenis akhir-akhir ini, peristiwa ini adalah yang paling banyak memakan korban. Teror ini juga menjadi yang paling brutal sekaligus pengecut, karena menyasar warga sipil yang tak bersenjata.

Pernyataan simpati segera datang dari seluruh dunia. Pemerintah setempat dan pemerintah Mesir pun segera mengambil tindakan menanggapi aksi teror tersebut.

Tak ada yang mengaku bertanggung jawab terhadap aksi tersebut. Namun, dugaan terkuat, aksi tersebut dilakukan oleh kelompok Islamic State Cabang Sinai.

Bagi kelompok IS, sufisme adalah faham sesat. Siapa yang menganutnya, telah menyimpang dari agama Islam yang murni versi mereka. Oleh karena itu, tidak mengapa berjihad melawan sufi bahkan sampai membunuhnya. Hal ini diperkuat oleh saksi mata yang mengatakan bahwa gerombolan teroris tersebut membawa bendera hitam yang menjadi ciri khas kelompok IS.

Kemungkinan lain, pelaku teror tersebut adalah kelompok bersenjata dari faksi Ikhwanul Muslimin yang menjadi oposisi pemerintah Mesir di bawah Jenderal Abdul Fattah Al-Sisi. Tujuan kelompok ini adalah menciptakan instabilitas politik guna menjatuhkan rezim yang saat ini sedang berkuasa. Kita tahu, semenjak Muhammad Mursi dari kelompok Ikhwanul Muslimin dikudeta oleh militer Mesir, pihak Ikhwanul Muslimin setia menjadi oposisi resim Al-Sisi.

Lantas, bagaimanakah reaksi warganet di Indonesia? Khususnya umat Islam yang mengusung ideologi Islamisme? Ternyata, bagi kelompok ini, teror yang menewaskan ratusan umat Islam bukanlah sesuatu yang penting.

Hal ini sungguh aneh karena beberapa waktu yang lalu, saat umat Islam Rohingya berkonflik dengan pemerintah Myanmar, betapa ghirah umat Islam sangat tinggi untuk membantu etnis Rohingya. Namun, terhadap warga Mesir yang menjadi korban walau sesama muslim, nyaris tak terdengar pernyataan simpati.

Mengapa tak ada reaksi dari kaum islamis Indonesia yang rata-rata juga menjadi alumni aksi dengan nomor cantik ini? Karena yang melakukan aksi ini disinyalir adalah umat Islam juga, yakni kelompok Islamic State atau Ikhwanul Muslimin. Coba saja jika pelakunya umat non-muslim, pasti akan di-blow-up besar-besaran.

Hal ini juga terjadi pada konflik Saud vs Yaman. Kita jarang mendengar suara-suara pro-Yaman. Hal ini karena pelaku penyerangan Yaman adalah Saudi yang notabene dianggap negara Islam.

Di Indonesia pun, jika terjadi teror yang mengatasnamakan agama, umat Islam yang ideologis ini jarang ada yang mau mengakui dengan legowo bahwa memang di antara umat Islam ada yang ekstrem.

Alih-alih mengakui bahwa di dalam internalnya ada faham ekstremisme, umat ini malah sibuk mencari kambing hitam dan alasan agar umat tidak disalahkan. Pokoknya, kami tak mungkin salah.

Dalam kasus teror Mesir pun, media seperti portal-islam.id malah menuduh pihak pemerintah Mesir sendiri bahkan Israel sebagai dalang dari aksi tersebut. Inilah yang disebut dengan sikap denial, yakni sikap penyangkalan terhadap sesuatu yang tidak disukai.

Sebagian dari kita tidak mau menerima kenyataan bahwa memang ada di antara saudara-saudara kita yang memang berpaham ekstrem. Sebagian dari kita memang ada yang menghalalkan darah sesamanya untuk ditumpahkan karena motif agama.

Kita menutup mata dari hal ini sambil mencari kambing hitam. Ironis tatkala di sisi lain kita selalu dengan mudah menuduh pihak lain salah, namun tak mau instrospeksi terhadap kondisi internal umat Islam.

Mentalitas denial ini yang menghambat kita untuk mengobati penyakit dalam tubuh umat hari ini, yakni ekstremisme dalam beragama. Padahal, perjalanan sejarah Islam telah membuktikan bahwa ekstremisme merupakan penyakit yang akut dan harus segera diobati.

Nabi Muhammad SAW sudah meramalkan bahwa akan ada dari umatku yang mereka membaca Alquran, rajin salat malam, namun mereka bersikap mudah mengkafirkan dan menghalalkan darah sesamanya.

Merekalah kelompok Khawarij, yang saleh secara ritual, namun ekstrem secara pemahaman. Salah seorangnya berhasil membunuh Khalifah Ali Bin Abi Thalib saat sedang melaksanakan salat.

Kaum khawarij sudah punah, namun pemahamannya senantiasa diwariskan dari masa ke masa. Penyebabnya adalah pemahaman mereka terhadap kitab suci yang sangat harfiah dan menganggap bahwa merekalah yang paling benar.

Maka dari itu, salah satu cara melawan narasi teror adalah melawan sifat denial dalam diri kita. Mari kita mengakui bahwa memang ada yang ekstrem di antara kawan-kawan kita sesama umat Islam. Bahkan, dalam setiap agama selalu ada ekstremis, seperti kelompok Ku Klux Clan di Amerika. Namun, mengakui hal ini bukan berarti menistakan agama kita masing-masing. Justru hal ini penting agar agama kita tetap relevan di zaman ini.

Setelah itu, kita obati penyakit tersebut dengan cara penyadaran melalui pendidikan. Kita sebarkan anti-virus teror, yakni pemahaman agama yang benar dan non-kekerasan.

Beragama dengan baik tak mesti menjadi pribadi yang kasar, tertutup, dan kaku. Justru seorang yang luwes, berpikiran terbuka, dan supel lebih mendekati sifat-sifat Rasulullah SAW.

Sumber: Teror Sinai dan Umat yang Denial (qureta.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *