Tentang Penistaan Agama

0
168

Sebenarnya mayoritas umat Islam di Indonesia sudah menerima 4 pilar kebangsaan sebagai sesuatu yang tidak perlu diutak-atik lagi. 4 pilar itu adalah : NKRI, Pancasila, UUD 45 dan Bhineka Tunggal Ika. Dalam event-event besar ormas Islam biasanya suka ada seminar 4 pilar, walaupun ya tujuannya untuk menambah dana acara. Hhe.

Namun tentu ada dari minoritas umat Islam yang belum menerima 4 pilar ini dan ingin mendirikan pilar yang lain. Jumlah kelompok kedua ini sedikit, namun teriakan mereka terkadang kencang sehingga seolah-olah besar.

Mayoritas umat Islam di Indonesia juga adalah kaum yang moderat, dalam artian sepakat bahwa kekerasan atas nama agama adalah hal yang tabu dan kurang baik dilakukan. Sementara minoritas umat Islam di Indonesia masih mempunyai faham fundamentalis, yang kurang mengapresiasi khazanah modernitas karena bukan berasal dari Islam.

Ada 3 kelompok besar Islam menurut saya yang sangat berperan dalam membuat umat Islam menjadi nasionalis dan moderat dan tidak berfaham fundamentalis.

1. Muhammadiyah
2. Nahdatul Ulama
3. Harakah Tarbiyah (PKS)

Mari kita uraikan satu per satu.

Muhammadiyah
Sejak awal kemunculannya Muhammadiyah memang bertujuan ingin memodernkan cara beragama masyarakat pada zamannya (dinamisasi). Masyarakat modern cenderung ingin efektif dan efisien dalam bertindak. Maka selain memodernkan cara beragama, Muhammadiyah pun menyederhanakan cara beragama masyarakat pada zamannya (purifikasi). Karena modernitas memang sudah tidak asing di kalangan Muhammadiyah, maka konsep kenegaraan modern yang berbeda dengan kenegaraan masa lalu bisa diterima oleh Muhammadiyah. Bagi Muhammadiyah sistem kenegaraan adalah umuur dunyaa yang kita lebih tahu tentangnya. NKRI yang kita huni saat ini adalah daarul ‘ahdi wa daarusy syahadah. Negara konsensus dan negara kesaksian.

Nahdlatul Ulama
Dibanding dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama mempunyai faham yang lebih rumit dalam beragama. Hal ini karena NU mengharga tradisi masa lalu sebagai warisan yang perlu tetap dijaga dan dilestarikan. Pada akhirnya NU harus menyadari bahwa modernitas adalah realitas yang tak terhindarkan. Maka beberapa cendekiawan dari gerakan ini mulai mempelajari khazanah modern tanpa meninggalkan turats. Akhirnya hari ini NU sudah menjadi modern dalam gerakan seperti Muhammadiyah dengan tak meninggalkan tradisi. Termasuk dalam memandang fiqih kenegaraan, bagi NU NKRI harga mati.

Harakah Tarbiyah (PKS)
Kelompok ini akar gerakannya dari ikhwanul muslimin yang didirikan oleh seorang sufi bernama Hasan Al Banna. Mengalami radikalisasi di tangan Sayyid Quthb, dan mengalami moderasi di tangan Erdogan. Erdogan tidak mengubah dasar negara Turki yang sekuler, namun justru Erdogan mengubah paradigma sekuler dari yang anti agama menjadi netral agama. Sekuler yang netral agama memungkinkan Islam dan agama-agama lain berkembang tanpa ada diskriminasi. Tarbiyah yang ada di Indonesia sekarang mayoritas menganut metode Erdogan yang kompromistis dan non radikal. Saya beberapa kali mendengar pidato Ahmad Heryawan, dan menurut saya konten pidatonya sangat nasionalis dan jauh dari kesan Islamis.

Tentu saja anggota dari 3 kelompok d atas pasti ada saja yang berfaham fundamentalis, namun saya yakin mayoritas anggota kelompok di atas masih nasionalis dan moderat. Sebenarnya ada satu kelompok lagi yang perlu saya sebut, yakni kaum liberal. Kaum liberal adalah anti tesis bagi kaum fundamentalis, kelompok ini senantiasa menghadang gagasan kaum fundamentalis secara konfrontatif. Kaum fundamentalis relatif sulit mempengaruhi kaum moderat. Isu khilafah dan syiah tidak mendapatkan banyak simpatik dari kaum moderat.Namun ternyata ada satu isu yang memang bisa menimbulkan kemarahan bukan saja kaum fundamentalis namun juga kaum moderat, yakni penistaan agama.

Kaum liberal menuduh kaum kaum fundamentalis memanas-manasi kaum moderat dengan isu penistaan agama. Sementara kaum moderat merasa tidak dipanas-panasi oleh fundamentalis, namun gerakan mereka adalah karena memang kesadaran dan pemahaman mereka. Kaum fundamentalis menuduh kaum liberal dan moderat yang kurang respek terhadap aksi mereka sebagai munafik dan tuduhan-tuduhan keji lainnya.

Pertikaian di atas menjadi semakin rumit dengan adanya variabel politik. Memang faktanya kejadian ini terjadi pada saat momentum politik yang sangat krusial untuk Rakyat Jakarta. Sayangnya saya merasa kurang faham soal perpolitikan, sehingga variabel ini saya abaikan dahulu.

Dialektika dalam ranah pemikiran ternyata dimanifestasikan dalam aksi nyata. Aspirasi kaum yang menganggap telah terjadi penistaan agama diwujudkan dalam aksi bela islam I, II dan III. Sementara kaum yang menganggap bahwa tidak ada penistaan agama membuat parade kebhinekaan. Timbullah saling curiga, kaum yang melakukan aksi bela Islam mencurigai kaum yang melakukan parade kebhinekaan adalah antek asing dan aseng. Sebaliknya kaum yang melakukan parade kebhinekaan menuduh kaum yang melakukan aksi bela Islam anti kebhinekaan, tidak nasionalis dan akan melakukan makar.Dua kelompok ini lalu saling sindir menyindir di medsos, bahkan banyak juga yang memutuskan pertemanannya gara-gara hal ini.

Sebenarnya pro dan kontra adalah sebuah hal yang niscaya, dan baik pihak yang pro maupun kontra berhak mengekspresikan opininya dengan catatan tak melanggar hukum. Ide sejatinya dilawan dengan ide, bukan dengan fentung. Biarlah dinamika terjadi asal dalam koridor, dinamika justru akan melahirkan kemajuan.

Besok ada orang-orang yang akan berangkat ke Jakarta untuk mengekspresikan gagasannya. 2 Hari sebelumnya pun sudah diadakan kegiatan ekspresi gagasan yang dilakukan serentak di banyak provinsi dan kota. Sayangnya saya dengar polisi mensabotase pool-pool bis agar tidak berangkat.

Saya faham kekhawatiran polisi bahwa aksi ini akan ditunggangi sekelompok orang yang bermaksud makar, sehingga harus dicegah. Dalam ilmu ushul fiqh yang dilakukan polisi adalah sadd dzari’ah.

Namun menurut saya pribadi apa yang dilakukan polisi terlalu berlebihan. alasannya saya masih yakin bahwa kaum moderat masih kuat untuk ditunggangi oleh kaum fundamentalis. Sebaliknya, justru yang saya khawatir kalau polisi menekan kaum moderat mereka bisa lebih mudah dipanas-panasi oleh kaum fundamentalis dan menjadi fundamentalis beneran.Maka menurut saya tak perlu lah dihalang-halangi,cukup dijaga ketertibannya dan keamanannya.

Saya sangat sadar dengan menulis uraian di atas oleh kaum fundamentalis saya dianggap kaum liberal, oleh kaum liberal saya dianggap membela kaum fundamentalis. Saya juga sangat sadar mungkin akan ada person-person yang tersinggung dengan uraian di atas. Ya mau bagaimana lagi, saya hanya mengungkapkan apa yang menurut saya benar, walau menurut anda mungkin tidak benar. Sebagaimana anda pun berhak mengungkapkan apa yang menurut anda benar, walau menurut saya tidak benar.

Wallahu a’lam bish shawwaab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here