Sepenggal Kisah Tentang Kang Jalal

Nama Jalaluddin Rakhmat saya kenal dari buku-bukunya yang ada di rumah saya. Tidak banyak jumlahnya, namun cukup membuat saya tahu bahwa memang beliau adalah seorang intelektual yang hebat.

Cerita lain tentang Kang Jalal (panggilan akrabnya) saya dapatkan dari ayah saya sendiri, yang berkesempatan untuk berinteraksi dengan beliau secara langsung.

Ayah saya mengisahkan bahwa Kang Jalal merupakan seorang yang cerdas namun tidak mampu secara ekonomi. Kecerdasannya membuat beliau diterima di Jurusan Kedokteran, namun kekurangan dalam segi ekonomi membuatnya harus memupus harapan untuk menjadi mahasiswa jurusan bergengsi tersebut.

Pada akhirnya, Kang Jalal memutuskan untuk masuk Sekolah Publisistik UNPAD, sekarang Fakultas Ilmu Komunikasi. Hari ini ilmu komunikasi merupakan salah satu jurusan yang bergengsi. Namun pada masa itu, jurusan ini tidak dilirik oleh calon mahasiswa.

Kata ayah saya, memang dasar sejak awal sudah cerdas, akhirnya Kang Jalal pun menjadi pakar komunikasi. Sebagian dari kita mengenal karya-karya beliau yang menjadi buku teks ilmu komunikasi.

Pada mulanya Kang Jalal adalah aktivis Muhammadiyah. Di Muhammadiyah pun beliau bukan hanya anggota biasa, namun kader yang terkenal di daerahnya, yakni Kota Bandung. Sampai studinya ke Iran membuatnya lebih tertarik dengan Syiah.

Perpindahan mazhab akidah dari Sunni ke Syiah membuatnya ditolak di Muhammadiyah, bahkan pernah di sidang oleh PW. Muhammadiyah Jawa Barat. Kang Jalal berpisah dengan Muhammadiyah karena akidah barunya. Dia mendirikan Yayasan Muthahhari yang mempunyai amal usaha SMA Plus Muthahhari di Kiara Condong Bandung.

Kang Jalal juga mendirikan Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) kelompok syiah yang berhaluan modernis dan tidak memiliki trah Rasulullah. Di sisi lain ada Ahlul Bait Indonesia (ABI) kelompok syiah tradisionalis yang para pemimpinnya kebanyakan adalah habib.

Menarik, walau sudah menjadi Syiah, Kang Jalal tetap seorang Syiah yang modernis, bahkan cenderung dianggap liberal oleh Syiah tradisionalis. Barangkali ini pengaruh dari Muhammadiyah yang sudah menjadi mantan ormasnya.

Saat sudah menjadi Syiah, ayah saya diwanti-wanti untuk tidak dekat-dekat lagi dengan Kang Jalal. Ayah saya bersikap santai saja, bagi dia yang penting apa yang bagus dari Kang Jalal diambil, adapun syiahnya tidak diikuti.

Satu ilmu yang diambil dari Kang Jalal oleh ayah saya adalah retorika dan cara Kang Jalal berpidato. Ayah saya saat belajar untuk ceramah menjadikan gaya bicara Kang Jalal sebagai model. Ayah saya meniru cara Kang Jalal berpidato.

Seiring berjalannya waktu, baik Kang Jalal maupun ayah saya menempuh jalan hidupnya masing-masing. Ayah saya tetap aktif di organisasi Muhammadiyah. Sementara Kang Jalal, belakangan sukses menjadi wakil rakyat dengan kendaraan PDI Perjuangan.

Sore ini saya baca berita bahwa Kang Jalal meninggal dengan wasilah covid-19. Saya mendoakan semoga beliau diterima amal ibadahnya dan dan diampuni segala dosanya.

Saat tulisan ini ditulis, ayah saya pun sedang sakit. Saya minta doanya dari para pembaca agar ayah saya dianugerahi kesembuhan sehingga bisa beraktifitas kembali seperti sedia kala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *