Saat Jonru Menyerang Quraish Shihab

Sehari sebelum lebaran, penulis tertegun dengan gambar yang beredar di media sosial. Isinya adalah headline berita bahwa Quraish Shihab akan menjadi khatib di Masjid Istiqlal.

Ada foto beliau dan tulisan di sampingnya. Isi tulisan tersebut adalah ajakan untuk tidak salat Id di masjid Istiqlal. Lebih baik mencari masjid lain, hal ini karena khatibnya Quraish Shihab. Quraish dituduh menyebarkan paham menyimpang, yakni tidak wajibnya jilbab, Rasulullah SAW tidak dijamin masuk surga, dan Quraish dituduh berafiliasi pada paham syiah.

Intinya ini soal akidah, katanya. Siapa yang salat Id di Masjid Istiqlal maka dia telah menggadaikan akidahnya.

Setelah dicek, ternyata sumber gambar tersebut adalah fanpage Jonru Ginting. Jonru, seperti yang kita tahu, adalah salah satu figur publik di kalangan netizen yang menyebarkan fundamentalisme agama. Gaya-gaya statement-nya yang provokatif sudah menjadi ciri khasnya.

Melihat statement Jonru tersebut, penulis tak habis pikir, kok bisa-bisanya di akhir Bulan Ramadan yang suci ini Jonru malah mengeluarkan ujaran yang penuh kebencian. Puasa yang seharusnya bisa meningkatkan skill untuk mengendalikan diri rasanya tak terlihat dalam diri Jonru. Ajaran Islam seperti tabayyun pun hanya berlaku saat ulama yang didukung Jonru difitnah. Padahal Quraish Shihab juga ulama lho.

Ajaran Islam lain seperti menghormati ulama pun dilupakan Jonru. Tak heran jika netizen lain langsung bereaksi membandingkan Jonru dengan Quraish Shihab, missal dari buku-buku yang ditulis keduanya.

Ternyata sangat jauh sekali karya keduanya kalau dibandingkan, bahkan ada netizen yang berkomentar baina samaa’ was sumur, jauhnya seperti langit dan sumur. Lantas pertanyaan selanjutnya, benarkah tuduhan Jonru terhadap Quraish Shihab?

Pertama, soal kewajiban jilbab. Sebenarnya Quraish Shihab tidak pernah secara terang-terangan berceramah kepada jamaahnya bahwa jilbab tidak wajib, maka yang sudah pakai jilbab tolong dilepas saja. Jika kita cari, tak akan kita temukan ceramah Quraish Shihab yang seperti itu.

Namun suatu hari di channel Metro TV, ada sebuah acara yang menghadirkan Quraish Shihab bersama putri-putrinya. Salah satu putrinya yang terkenal adalah Najwa Shihab, yang kita tahu dalam kesehariannya tak memakai kerudung.

Dalam forum tanya-jawab, ada seorang ibu yang mempertanyakan hal itu, bagaimana hukum jilbab menurut Pak Quraish, karena anak-anaknya tak memakai jilbab.

Menjawab pertanyaan itu, Quraish Shihab menjelaskan bahwa ada ulama yang tidak mewajibkan jilbab dalam arti penutup rambut. Beliau menambahkan bahwa kalau putrinya ingin berjilbab, maka itu harus dengan kesadaran sendiri, bukan atas paksaannya.

Acara tersebut terdokumentasikan dengan baik, videonya masih bisa kita lihat di YouTube lalu menjadi viral. Dari video ini kemudian banyak yang mengkritik beliau bahkan mencaci maki beliau.

Penulis sendiri masih berpandangan bahwa jilbab adalah sebuah kewajiban bagi perempuan muslim karena banyaknya dalil yang menekankan hal itu. Walau penulis tak mau menghakimi perempuan yang memang belum berjilbab, karena penulis bukan Tuhan yang tugasnya menghakimi.

Bagi penulis, mengkritik pendapat Quraish Shihab adalah sah-sah saja, karena saling mengkritik dan perbedaan pendapat adalah kunci berkembangnya ilmu pengetahuan. Namun yang sangat disayangkan manakala yang berkembang di masyarakat awam adalah ujaran kebencian seperti yang dilakukan Jonru. Hal ini yang penulis tidak setuju karena ujaran kebencian seperti ini menunjukkan kerdilnya pikiran.

Kedua, soal Nabi Muhammad SAW yang katanya tidak dijamin masuk surga. Dalam acara tafsir Al Mishbah, Quraish Shihab mengutip sebuah hadis mengenai amal bukan sebab seseorang masuk surga.

Sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, apakah termasuk juga beliau? Nabi menjawab, ya termasuk beliau tak akan masuk surga hanya karena amalnya. Setelah ramai soal statement Quraish Shihab tersebut, beliau segera melakukan klarifikasi bahwa kita sebagai umat Islam tetap meyakini Nabi pasti masuk surga.

Hanya Quraish mengutip hadis tersebut dalam konteks pembahasan pada waktu itu, yakni amal bukan sebab masuk surga, namun rahmat Allah sebab masuk surga. Sayangnya walau telah diklarifikasi, namun pihak-pihak yang memang sejak awal tak suka beliau seperti mendapatkan amunisi untuk menyerang personal beliau.

Ketiga, soal tuduhan syiah yang dialamatkan pada Quraish Shihab.

Perlu kita ketahui bahwa sunni dan syiah adalah produk sejarah bahkan produk politik dalam kurun waktu tertentu. Maka amatlah bodoh jika kita mewariskan konflik politik abad ke-7 dari generasi ke generasi lalu kita ulangi hari ini. Hal ini amatlah konyol.

Oleh karena itu, bukan hanya Quraish Shihab, namun siapa pun cendekiawan muslim yang memang paham agamanya sudah matang, pasti tidak akan ada masalah dengan paham sunni dan syiah.

Memang persoalannya, baik di kalangan sunni maupun syiah, ada orang-orang yang ekstrem. Hal ini yang membuat ada saja yang mudah diadu-domba oleh persoalan sektarian ini.

Namun bagi ulama yang memang sudah sangat mumpuni keilmuannya, pasti akan arif dan bijak dalam menyikapi perbedaan sunni dan syiah. Salah satu ulama itu adalah Quraish Shihab. Sayangnya, sikap arif dan bijak dalam menyikapi syiah ini disalahartikan oleh pihak-pihak yang tak suka beliau. Dibuatlah fitnah bahwa Quraish Shihab adalah syiah.

Selepas Ramadan dan mengawali bulan Syawwal ini, mari kita meraih kemenangan sejati dengan menjadi lebih arif dan bijak seperti Nabi Muhammad SAW. Jangan seperti Abu Lahab dan Abu Jahal yang kerjaannya hanya mengompor-ngompori kaum Quraisy pada waktu itu.

Berbeda pendapat boleh saja, namun tetaplah hormat kepada orang yang lebih tinggi ilmunya dari kita.

Sumber: Saat Jonru Menyerang Quraish Shihab (qureta.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *