Quo Vadis Alumni 212?

0
351

Ada 3 motif utama menurut saya yang menjadi alasan orang menghadiri Aksi Bela Islam 212 pada Bulan Desember tahun 2016 yang lalu. Motif pertama aksi bela Islam tak hanya menjadi gerakan moral untuk menegakkan hukum bagi penistaan agama, namun juga menjadi momentum untuk kebangkitan dan persatuan umat Islam. Lebih dari itu, Aksi Bela Islam 212 juga merupakan langkah awal bagi tercapainya cita-cita politik Islam dan kepemimpinan ulama yang pro terhadap cita-cita tersebut.

Motif kedua orang menghadiri Aksi Bela Islam 212 adalah menuntut penegakkan hukum atas kasus penistaan agama dan sebagai dukungan agar umat Islam bangkit dari keterpurukannya. Namun dalam motif kedua ini minus dukungan terhadap cita-cita politik Islam yang diusung oleh motif pertama.

Terakhir adalah motif ketiga, dimana orang menghadiri Aksi Bela Islam murni karena ghirah keagamaan saja. Kelompok ini tidak sepakat saat agamanya dinista, sehingga mereka hadir untuk menuntut penegakkan hukum terhadap sang penista. Saat hukum sudah ditegakkan, vonis sudah dijatuhkan, maka aksi bela Islam bagi kelompok ini sudah selesai. Tak perlu diperpanjang lagi, karena mission completed. Saya (Robby Karman) dan ayah saya (Ustadz Karman) termasuk motif ketiga, walau resikonya ayah saya sempat kena bully motif pertama dan kedua. Yang termasuk kelompok ketiga ini juga Dr. Haedar Nashir selaku Ketum PP. muhammadiyah dan Dahnil Anzar Simanjuntak ketum PP. pemuda Muhammadiyah.

Bagi motif pertama dan kedua, 212 tidak hanya menjadi aksi yang sporadis sifatnya, namun menjadi ghirah yang harus terus dipelihara. 212 kemudian diorganisir secara rapi melalui pembentukan presidium alumni dan kongres alumni 212. Reuni 212 pun sukses diadakan pada bulan Desember tahun 2017.

Follow up dari Aksi Bela Islam ini pun membentuk koperasi syariah 212 dan minimarket 212 seperti yang sudah bisa dilihat di kampus almamater saya yang tercinta STEI Tazkia. Lebih jauh lagi, beberapa tokoh alumni 212 yakni Habib Rizieq yang telah ditahbiskan oleh sekelompok umat Islam sebagai imam besar meminta kepada alumni agar keberhasilan gerakan 212 dicopas ke daerah lain yang strategis. Hal ini ternyata tidak disetujui oleh 3 partai besar yang oleh Habib Rizieq bisa mewakili aspirasinya, yakni Gerindra, PKS dan PAN.

Tiga partai besar ini sama-sama berpandangan bahwa setiap daerah punya ciri khas masing-masing. Enak aja mau main copy paste kayak kebiasaan mahasiswa kalau buat makalah. Maka dari itu kejadian juga ternyata tiga partai ini berkoalisi dengan partai yang oleh tokoh 212 dilabeli dengan partai pendukung penista. Hal ini membuat beberapa komponen aksi 212 kecewa, misalnya GNPF Ulama Sumut mengirim surat ke 3 partai agar meninjau kembali koalisi yang diusung oleh pasangan Edi Rahmayadi.

Kasus terbaru adalah kisruh La Nyalla Mataliti kader Gerindra yang merasa dizhalimi oleh partai Gerindra karena tak jadi dicalonkan di Jatim. Hal ini memancing Al Khaththath untuk membuka suara bahwa 5 calon gubernur yang direkomendasikan oleh alumni 212 tak ada satupun yang diloloskan oleh 3 partai ini. Hal ini tentu memancing reaksi dari alumni 212 yang lain. Bagi mereka apa yang dilakukan La Nyalla dan Al Khaththath ini offside dan dapat mencoreng citra alumni 212. Akhirnya Ustadz Slamet Maarif atas nama Presidium Alumni 212 menyatakan bahwa yang dilakukan Al Khaththath CS itu di luar koordinasi PA 212.

Setelah itu muncullah GARDA 212 di bawah pimpinan Ustadz Ansufri Idrus Sambo yang menyatakan sebagai wadah alumni 212 yang ingin terjun ke politik. Ustadz Sambo ingin kekuatan 212 ini jangan malu-malu untuk melakukan manuver-manuver merebut momentum politik yang ada, walau mungkin resikonya seperti yang dialami La Nyalla. Sayangnya Presidium Alumni 212 tidak mengakui eksistensi dari Garda 212 ini.

Dari cerita di atas, maka kita patut untuk bertanya, quo vadis alumni 212? Fa aina tadzhabun? Jika ada alumni 212 yang ikut Aksi 212 karena ingin penegakkan hukum semata, dan tidak terlibat apapun lagi setelahnya, mereka harus kita hormati, mereka juga alumni kan. Jika ada yang setelah menjadi alumni 212 kemudian membuat gerakan ekonomi ini juga harus kita hargai dan diawasi karena dananya berasal dari umat yang menanam saham.

Lantas bagaimana dengan gerakan politik? Ya hemat saya kalau mau buat partai sendiri, misalnya partai 212. Atau kader-kader yang memang mau disebar ke partai yang sudah ada. Jangan berpolitik atas nama presidium alumni 212, karena sejak awal komitmen dari aksi bela Islam ini adalah gerakan moral bukan politik. Maka apa yang dilakukan Ust. Slamet Maarif sudah berada pada relnya yakni menyelamatkan nama baik presidium alumni 212. Sebaliknya apa yang dilakukan Ust. Sambo dan Ust. Al Khaththath perlu direm jika masih menggunakan nomenklatur 212.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here