Polemik Urin Unta

0
437

Beberapa waktu yang lalu kita dihebohkan dengan sebuah video dimana Ustadz Bachtiar Nasir meminum susu dicampur sedikit urin unta. Video ini kemudian viral dan menjadi perbincangan di media sosial. Pro kontra pun bermunculan, ada yang setuju dan ada yang tidak terhadap perilaku UBN. Ada yang mendukung ada pula yang menolak bahkan mencibir apa yang dilakukan Ustadz yang sedang naik daun ini.

Jika kita mengamati, dalam perbincangan seputar agama Islam soal urin unta ini hampir tak pernah disinggung. Saya pribadi dari sejak kecil belajar agama dan juga sudah belajar banyak aliran dan corak pemahaman baru tahu kalau ada hadits tentang urin unta. Kalau toh memang ada anjuran untuk mengamalkan pengobatan cara nabi (thibbun nabawi) maka yang terkenal adalah madu, habbatu sauda dan bekam. Sama sekali tidak pernah ada penjual herbal yang jual kapsul atau madu dicampur urin unta.

Saya melihat maksud UBN adalah memberitahu kita bahwa ada loh hadits tentang minum urin unta sebagai obat. Maka jangan sampai umat Islam tidak tahu tentang hadits ini, terlebih haditsnya adalah riwayat Imam Bukhari yang memang paling baik kualitasnya dibanding dengan riwayat imam lainnya.

Walaupun sangat tidak familiar di kalangan orang awam, bahkan sulit ditemukan pembahasan spesifiknya dalam kitab fikih standar, namun para ulama sudah pernah membahas mengenai hukum berobat dengan kencing unta ini. Pada dasarnya seluruh ulama sepakat bahwa air kencing adalah najis, dan karena najis maka hukumnya haram dikonsumsi. Namun menurut Imam Malik dan Imam Ahmad hal ini tidak berlaku untuk urin unta, karena alasan hadits tadi. Sementara menurut Imam Syafii dan Abu Hanifah, hukum urin unta tetaplah najis dan haram.

Mayoritas masyarakat Indonesia bermazhab Syafii, maka hukum meminum urin unta bagi mayoritas masyarakat Indonesia tetaplah haram. Terlebih masalah utamanya adalah di Indonesia unta hanya bisa ditemukan di kebun binatang, maka jelas persoalan urin unta ini menjadi sangat tidak penting untuk dibahas. Sudah mazhabnya Syafii, untanya gak ada, ya ngapain cape-cape bahas soal urin unta. Untung saja tidak ada yang melakukan qiyas terhadap hal ini. Misalnya karena di Indonesia tak ada unta, bagaimana kalau kita qiyaskan dengan sapi dan kambing? Maka hukum meminum urin sapi dan kambing adalah boleh. Illatnya unta dan sapi serta kambing sama-sama hewan ternak. Untung saja gak ada yang begitu.

Namun sekarang pada kenyataannya persoalan urin unta ini sudah menjadi polemik yang cukup menarik di media sosial. Bagaimana kita harus bersikap? Pertama, saya tegaskan bahwa kita tidak boleh bersikap apriori terhadap hadits nabi. Hadits meminum urin unta ini shahih, ya mesti kita terima. Jangan sekali-kali kita nyinyir atau meledek hadits ini. Kedua, saya berpendapat bahwa mari kita baca hadits ini secara menyeluruh baik teks maupun konteksnya. Sehingga tidak lantas karena ada haditsnya langsung kita mengamalkannya. Mari kita kaji dan teliti dulu. Kalau hadits tentang ibadah mahdah dan akidah kita harus sami’na wa atho’na, tapi kan ini tentang perkara dunia, jadi perlu dikaji terlebih dulu.

Biar bagaimanapun urin unta sebagai obat adalah local wisdom yang dimiliki oleh suku badui Arab, setiap masyarakat tradisional memiliki local wisdomnya masing-masing, sampai peradaban modern yang menggilasnya. Saya berhenti pada pemahaman bahwa pengobatan urin unta itu merupakan kearifan lokal, namun saya tidak sepakat jika kemudian pengobatan dengan urin unta ini dijustifikasi sebagai ajaran Islam, karena memang gak cocok. Nanti akan timbul pemahaman bahwa yang tidak mau berobat dengan urin unta adalah menolak ajaran Islam, kan bahaya juga. Maka sekali lagi posisi saya bahwa pengobatan dengan urin unta adalah kearifan lokal kaum Arab Badui, bukan ajaran Islam walau disebut dalam hadits.

Jumhur ulama sepakat bahwa hadits adalah sumber hukum kedua setelah Al Quran. Hal ini meniscayakan bahwa dalam seluruh hadits mengandung ajaran agama. Namun saya memahami bahwa tidak semua hadits mengajarkan ajaran agama yang spesifik dan siap pakai. Ada juga hadits yang berisi ajaran agama yang sifatnya umum. Misalnya saya tidak memahami hadits soal urin unta sebagai anjuran kita benar-benar meminum kencing unta. Yang saya fahami adalah bahwa Rasulullah SAW menyuruh kita untuk tidak meninggalkan kearifan lokal salah satunya dalam hal pengobatan. Di sini saya kurang sepakat dengan UBN, karena UBN memahami bahwa seolah-olah semua hadits mengajarkan hal yang spesifik.

Pembahasan selanjutnya adalah soal kesehatan, memangnya aman ya mengonsumsi kencing unta bagi kesehatan? Jika kita searching di google scholar dan mengetik camel urine, maka akan banyak sekali muncul hasil penelitian tentang kencing unta. Menurut beberapa informasi di dalam kencing unta terdapat zat anti kanker. Walau begitu menurut WHO kita harus tetap hati-hati terhadap urin bahkan susu unta, dikarenakan dapat menjadi media penyebaran wabah MERS (Middle East Respiratory Syndrom). Menurut ahli farmasi walau dalam urin unta terdapat zat yang dapat menguntungkan manusia, namun untuk menjadi obat perlu ada tahapan-tahapan yang harus dilalui. Hal ini tentu saja tidak terlalu penting bagi yang memang sudah akrab dengan local wisdom satu ini, yakni penduduk Arab Badui.

Ada statement menarik yang dikeluarkan oleh Nanung Danar Dono direktur Halal Center Fakultas Peternakan UGM. Menurut dia urin unta berbeda dengan urin binatang lain, yakni tidak mengandung urea dan mengandung kadar amonia yang sangat sedikit. Kemudian urin unta mempunyai PH yang netral. Menurut saya temuan ini cukup menarik, karena bisa saja memang aman dikonsumsi. Dalam Al Quran Surat Al Ghasyiyah kita memang disuruh memperhatikan tentang penciptaan unta, sebuah hewan luar biasa karena disetting untuk menghadapi sebuah kawasan yang luar biasa juga, yakni gurun pasir.

Nanung juga mengeluarkan statement bahwa kita yakin bahwa Rasulullah tidak mungkin berdusta. Jadi kalau Rasulullah saw mengatakan urin unta itu berkhasiat ya pasti benar, karena tidak mungkin Rasulullah SAW berbohong. Menurut saya Rasulullah SAW memang tak mungkin berbohong, namun jika kita cek hadits yang lain, dalam persoalan yang memang bukan tugas utama diutusnya beliau, masih mungkin terjadi kesalahan. Misalnya dalam kisah beliau memberikan saran untuk mengawinkan kurma, yang pada akhirnya panennya malah tidak sesuai harapan.

Kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwasanya meminum urin unta adalah kearifan lokal Arab Badui bukan termasuk ajaran agama yang pokok. Dalam artian tidak mempraktekannya bukan berarti menentang Allah dan Rasulnya. Adapun manfaat atau mudharat dari urin unta mudah-mudahan terus bisa diteliti oleh para ahlinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here