Pendidikan Holistik; Sebuah Pendekatan untuk Abad 21

0
174

Ada sebuah artikel jurnal yang ditulis oleh Sirous Mahmoudi, Ebrahim Jafari, Hasan Ali Nasrabadi dan Mohammad Javad Liaghatdar berjudul Holistic Education : An Approach for 21 Century. Tulisan ini dimuat pada jurnal International Education Studies Vol. 5 No. 2 April 2012 halaman 178-186.

Sesuai dengan judulnya, artikel ini membahas mengenai pendidikan holistik yang jika dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi pendidikan yang menyeluruh. Kemunculan pendidikan holistik adalah respon terhadap paradigma mekanistik dan cartesian-newtonian dalam pendidikan. Paradigma ini beranggapan bahwa pendidikan adalah sebuah mesin yang mesti berjalan dengan teratur. Padahal subjek dalam dunia pendidikan adalah manusia yang mempunyai banyak aspek dalam kemanusiaannya, tidak hanya aspek kognitif misalnya. Paradigma mekanistik menjadikan manusia sebagai objek yang bersifat pasif, bukan lagi sebagai subjek yang aktif. Ini yang dikritisi oleh paradigma holistik. Oleh karena itu pendidikan holistik mendefinisikan dirinya sebagai pengembangan yang paling luas dari keseluruhan potensi yang dimiliki manusia.

Unsur pokok dari pendidikan holistik adalah adanya ketersambungan antara proses pendidikan dengan pengalaman dan realitas yang dialami peserta didik. Dalam pendidikan tradisional berlaku sebaliknya, pendidikan bersifat statis dan terpecah-pecah yang malah membuat adanya alienasi dan penderitaan. Pendidikan holistik fokus pada hubungan antara suatu bagian dengan keseluruhan visi yang besar dalam pendidikan itu sendiri. Pendidikan holistik meniscayakan peserta didik untuk menjadi aktif, partisipatif dan menjadi pembelajar yang kritis. Pendidikan holistik juga meniscayakan peserta didik agar peka dengan lingkungannya.

Ada empat pilar pendidikan holistik:

  1. Belajar untuk belajar, hal ini diawali dengan belajar untuk bertanya. Bertanya merupakan aksi yang alami untuk mencari sebuah pengetahuan. Belajar untuk belajar juga berarti memaksimalkan kesadaran untuk melatih keterampilan seperti memperhatikan, mendengarkan, mengembangkan rasa ingin tahu, intuisi dan kreatifitas. Hal ini berbeda dengan pendidikan tradisional dimana peserta didik hanya memasukan pengetahuan ke otaknya dari sumber yang sudah ada tanpa dieksplorasi lebih lanjut.
  2. Belajar untuk berbuat, maksudnya adalah apa yang dipelajari oleh peserta didik harus mempunyai dampak perubahan positif bagi masyarakat. Intinya apa yang dipelajari harus dapat dipraktikan baik berupa perilaku maupun karya nyata.
  3. Belajar untuk tinggal bersama, maksudnya peserta didik belajar untuk dapat hidup harmonis dengan orang lain maupun dengan lingkungannya. Hal ini meniscayakan tidak boleh adanya hal-hal negatif seperti prasangka dan diskriminasi. Peserta didik juga harus belajar untuk dapat saling mengerti dengan orang lain.
  4. Belajar untuk menjadi, maksudnya adalah peserta didik harus belajar untuk menemukan hakikat dirinya sendiri. Peserta didik harus belajar menjadi manusia seutuhnya dan memaksimalkan potensi kemanusiaannya.

Ada 7 prinsip dasar dari pendidika holistik:

  1. Mendidik untuk pengembangan manusia, pendidikan pada dasarnya bertujuan mengembangkan potensi kemanusiaan seseorang dengan pendidik sebagai fasilitator untuk mencapai tujuan tersebut.
  2. Menghormati peserta didik sebagai seorang individu, pada dasarnya setiap individu itu unik, maka dari itu perlu adanya saling respek untuk bersama-sama mengapresiasi keunikan tersebut.
  3. Peran utama bagi pengalaman, pendidikan yang baik berarti juga sebuah pengalaman. Saat menjalani pendidikan peserta didik harus memaksimalkan indra-indra yang ada tidak hanya 1 indra saja.
  4. Pendidikan yang menyeluruh, hal ini meniscayakan bahwa pendidikan tidak dapat didekati hanya daru satu aspek belaka, melainkan harus dari banyak aspek. Misalnya seorang anak dikatakan pintar tidak boleh hanya dinilai dari kemampuan rasional matematis, namun bisa saja anak yang lain pintar dalam segi yang lain seperti verbal dan estetik.
  5. Peran baru bagi pendidik, seorang pendidik tidak boleh terjebak dengan aturan formal yang mengekang potensinya, seorang pendidik harus mempunyai otonomi dalam mendidik dan senantiasa mengembangkan potensi kemanusiaannya sendiri.
  6. Kebebasan memilih, seorang peserta didik dan orang tuanya harus mempunyai kebebasan untuk memilih dalam setiap tahap dari proses belajar. Peserta didik harus dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingannya.
  7. Pendidikan untuk demokrasi partisipatif, pendidikan harus mengandung nilai-nilai demokratis. Hal ini tidak hanya soal pemilihan pemimpin. Nilai demokratis berarti setiap individu berperan aktif dalam komunitasnya. Demokrasi juga tak berarti soal suara terbanyak yang berhak mengatur. Namun demokrasi meniscayakan masyarakat yang mau berubah jika diperlukan.
  8. Mendidik untuk menjadi penduduk global, hari ini setiap orang adalah penduduk global. Maka dari itu pendidikan harus mengapresiasi keragaman yang ada dalam dunia global ini.
  9. Mendidik untuk peka terhadap persoalan lingkungan, karena kehidupan kita tak akan lepas dari lingkungan hidup. Kita harus hidup harmonis dengan lingkungan hidup, dan tidak mengeksploitasinya dengan sewenang-wenang.
  10. Spiritualitas dan pendidikan, seorang pendidik yang holistik harus juga mengembangkan sisi spiritualitas peserta didik. Spiritualitas dapat berarti peserta didik dapat menemukan makna dan arti dalam setiap peristiwa hidupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here