Mengenal Muhammadiyah

0
96

Muhammadiyah secara etimologi adalah Muhammad ditambah ya nisbah dan ta marbuthah. Muhammad adalah nama Nabi dan Rasul bagi seluruh umat muslim se-dunia. Ya nisbah dan ta marbuthah memberi makna pengikut. Jadi Muhammadiyah berarti pengikut Nabi Muhammad.

Jika kita melihat Muhammadiyah secara etimologi, maka semua umat Islam adalah Muhammadiyah. Karena seluruh umat Islam di dunia pasti mengikutiĀ dalam artian percaya bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah.

Muhammadiyah secara terminologi adalah organisasi yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Zulhijah 1330 H. / 18 November 1912 M. di Kauman Yogyakarta.

Jika kita melihat Muhammadiyah secara terminologi, maka tidak semua umat Islam adalah Muhammadiyah. Dalam artian yang disebut Muhammadiyah disini adalah umat Islam yang menjadi simpatisan, anggota atau pimpinan organisasi Muhammadiyah saja. Di luar itu berarti bukan Muhammadiyah.

Memahami pengertian Muhammadiyah secara etimologi dan terminologi ini penting agar pemahaman kita tidak rancu. Yang jelas jika bermuhammadiyah secara etimologi adalah kewajiban, maka bermuhammadiyah secara terminologi adalah pilihan.

Ada dua faktor yang melatarbelakangi berdirinya persyarikatan Muhammadiyah.
1. Faktor internal, yakni pemahaman KH. Ahmad Dahlan terhadap beberapa ayat Al Quran. Yang paling terkenal ada 3 ayat : Surat Al Ashr, Surat Al Maun dan Ali Imron 104.

2. Faktor eksternal, yakni kondisi masyarakat pada waktu itu yang diselimuti oleh kemiskinan, kebodohan, takhayul, kolonialisme dan ancaman kristenisasi.

Setelah pulang dari menuntut ilmu di Mekkah, KH. Ahmad Dahlan mulai mengadakan kajian terhadap Surat Al Ashr. Karena yang sering dikaji adalah surat Al Ashr, maka nama pengajiannya disebut pengajian Wal Ngasri. Di dekat tempat pengajian tersebut ada lapangan, lapangan tersebut diberi nama lapangan asri. Dan sekarang menjadi Asri Medical Center Yogyakarta.

Kenapa Al Ashr? Melalui surat ini KH. Ahmad Dahlan ingin mengajari kita etos produktifitas. Umat Islam harus menghargai waktu, time is money kalau kata orang barat. Jika umat Islam sudah menjadi umat yang produktif maka kehidupan secara material pun akan sejahtera. Etos ini mengingatkan kita kepada tesis Max Weber tentang etika Protestan yang melahirkan spirit kapitalisme. Kita semua tahu bahwa profesi KH. Ahmad Dahlan adalah pedagang batik.

Saat kehidupan material sudah sejahtera, kita tidak boleh abai terhadap sesama. Maka selanjutnya KH. Ahmad Dahlan mengajarkan surat Al Ma’un. Melalui surat ini KH. Ahmad Dahlan bahwa manusia tidaklah seperti yang digambarkan Charles Darwin yang harus memangsa sesamanya untuk bertahan hidup. Manusia punya sifat welas asih, yakni altruisme untuk mementingkan orang lain dibanding dirinya.

Gagasan Al Ashr dan Al Maun ini tidak bisa terwujud jika hanya dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan seorang diri. Barulah kita sekarang beranjak kepada Surat Ali Imran :104. Dari ayat ini kita tahu bahwa etos Al Ashr dan Al Maun diatas harus diorganisasikan secara baik, lalu diwujudkan secara konkret melalui amal usaha. Berdirilah organisasi Muhammadiyah, dan lahirlah amal-amal usaha yang meliputi 3 aktifitas, feeding, healing dan schooling.

Lalu mulailah masalah-masalah eksternal tadi dicoba untuk diselesaikan oleh Muhammadiyah. Saat masih banyak yang berobat ke dukun, Muhammadiyah mendirikan klinik. Secara tidak langsung masyarakat menjadi memilih klinik dibanding dukun. Saat misionaris mendirikan sekolah untuk menyebarkan agamanya, Muhammadiyah mendirikan sekolah juga.

Muhammadiyah lebih memilih jalan dakwah yang non-revolusioner, berusaha menyelesaikan masalah tanpa masalah. Alhamdulillah berkat hal tersebut Muhammadiyah masih ada wujudnya sampai sekarang.

Hari ini adalah tahun yang ke-105 dari semenjak Muhammadiyah berdiri. Selamat ulang tahun Muhammadiyah, wish you all the best.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here