Membantah Teologi Maut

Menurut kamus Merriam-Webster, terorisme adalah the use of violent acts to frighten the people in an area as a way of trying to achieve a political goal. Terorisme adalah penggunaan aksi kekerasan untuk menciptakan ketakutan. Dengan banyaknya ketakutan diharapkan sang peneror bisa mencapai tujuan politiknya.

Dalam surat Al Anfaal : 60 Allah swt. berfirman : “dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya: sedang Allah mengetahuinya, apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”.

Dalam ayat di atas ada kata turhibuuna yang diterjemahkan menjadi menggentarkan. Dalam bahasa Arab kontemporer, terorisme disebut dengan irhaabun, sementara pelakunya yakni teroris disebut irhabiyyun. Ada beberapa kaum muslim yang memang menggunakan ayat ini sebagai justifikasi dari aksi teror mereka.

Geertz Wilder seorang politisi anti Islam membuat film berjudul Fitna. Fitna adalah sebuah film yang sangat mendiskreditkan Islam. Di dalamnya digambarkan Islam adalah agama teroris dan penuh kekerasan. Dalam salah satu adegannya Wilder mengutip surat Al Anfal ayat 60 dengan latar belakang peledakan WTC.

Benarkah surat Al Anfal : 60 adalah dalil pembenaran terorisme? Benarkah Geertz Wilder pembuat film Fitna yang menuduh Islam agama teroris berdasarkan ayat tersebut?

Menanggapi Film Fitna Dr. Quraish Shihab membuat sebuah buku kecil yang dapat diunduh di internet secara gratis, judulnya ayat ayat fitna. Dalam buku tersebut beliau membantah dan meluruskan tuduhan Wilder yang seenaknya mencomot dan memotong ayat demi menunjukan bahwa Islam adalah agama teroris. Salah satu yang diluruskan beliau adalah soal Surat Al Anfal ayat 60 tersebut.

Menurut Quraish Shihab, kata turhibuun terambil dari kata rahiba yang artinya takut atau gentar. Namun pengertian semantik dan penggunaan kata tersebut dalam Al Quran bukan terorisme seperti yang dilakukan selama ini. Dalam ayat itu yang digentarkan bukan masyarakat umum, bukan pula orang yang tidak bersalah, namun yang seharusnya digentarkan adalah musuh Allah dan musuh masyarakat. Coba bandingkan dengan aksi terorisme hari ini yang malah menakut-nakuti dan menelan korban orang yang tidak bersalah. Betapa melencengnya dari pemahaman Al Quran.

Lalu masih menurut beliau, pemahaman terhadap Surat Al Anfal ayat 60 tidak boleh dipisahkan dari uraian ayat-ayat sebelumnya. Kita mesti membaca secara lengkap dari ayat 55-60 agar mendapatkan makna secara utuh.

Dalam ayat 55, Allah swt menjelaskan bahwa seburuk-buruk makhluk adalah orang kafir yang tidak beriman. Siapakah yang dimaksud orang kafir itu? Dalam ayat 56 dijawab bahwa yang dimaksud adalah mereka yang setiap kali mengikat perjanjian, maka mereka pun selalu mengingkarinya. Dalam ayat 57 Allah menyuruh kalau ditemui tipe orang seperti itu dalam peperangan, maka cerai beraikanlah mereka. Coba perhatikan, Allah tidak memerintahkan untuk membunuh, namun mencerai beraikan orang kafir itu agar mereka bisa mengambil pelajaran dari kesalahannya. Lalu ayat 58 Allah menyuruh agar umat Islam tidak menyerang pihak yang berkhianat kecuali setelah pembatalan perjanjian itu dan disampaikan kepada mereka secara tegas. Ayat 59 menegaskan bahwa orang-orang kafir itu tidak akan lolos dari siksa Allah swt.

Setelah itu barulah turun ayat 60 yang menjadi pembahasan utama kita. Apa hubungan ayat 60 dengan ayat sebelumnya? Dalam ayat 59 dijelaskan bahwa orang kafir pasti tidak akan lolos dari siksa Allah. Namun Allah swt. tidak ingin umat Islam hanya diam saja, karena sudah ada janji Allah. Maka dalam ayat 60 Allah swt. menyuruh umat Islam agar tetap bergerak dan mempersiapkan diri. Jangan karena sudah dijanjikan bahwa orang kafir akan dapat balasan maka umat Islam menjadi diam saja.

Lalu menurut Quraish Shihab, firmanNya menggentarkan musuh-musuh Allah menunjukan bahwa kekuatan yang dipersiapkan bukan untuk menindas atau menjajah. Melainkan untuk menghalangi pihak lain yang akan melakukan agresi. Dalam dunia militer hari ini ada yang namanya deterrent effect, maksudnya saat sebuah negara mempunyai peralatan tempur yang sangat canggih, maka negara lain akan segan dan gentar untuk berperang dengan negara tersebut.

Kiranya jelas bahwa Surat Al Anfal : 60 tidak bisa dijadikan landasan bagi aksi terorisme. Karena kata irhaab dalam ayat tersebut tidak sama maknanya dengan kegiatan terorisme hari ini. Irhaab bagi umat Islam hari ini adalah mempersiapkan kompetensi dan wawasan dalam menghadapi persaingan global. Kalau wawasan dan kompetensi umat Islam sudah siap bersaing, maka rival-rival pun akan gentar terhadap umat Islam.

Sumber: Membantah Teologi Maut (qureta.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *