Memaknai Pergantian Tahun

0
324

Allah Swt. berfirman dalam Surat Yunus ayat 5: Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kalian mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan semua itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya) kepada orang yang mengetahui.

Ayat di atas menerangkan bahwa penciptaan matahari dan bulan merupakan tanda kebesaranNya bagi orang yang mengetahui. Allah pun menjadikan orbit bagi benda-benda langit agar berputar pada porosnya. Perputaran pada porosnya ini membuat kita mengetahui pergantian tahun dan dapat dihitung secara matematis. Allah swt. menciptakan semua itu dengan benar tanpa sedikitpun kesalahan. Karena kesalahan sekecil apapun akan mengganggu keseimbangan alam dan membuatnya hancur.

Perputaran bumi mengelilingi matahari menghasilkan pergantian tahun masehi. Tahun masehi berganti saat bumi sudah satu putaran penuh mengelilingi matahari. Peredaran bumi terhadap matahari di negara dengan iklim sub tropis menghasilkan 4 musim. Sementara itu perputaran bulan mengelilingi bumi menghasilkan perhitungan kalender hijriyah. Menurut Al Quran (QS. 2:189) peredaran bulan menjadi tanda-tanda waktu bagi manusia dan penanda waktu ibadah. Ibadah haji dan puasa Ramadhan ditentukan oleh perhitungan kalender hijriah, bukan oleh kalender masehi. Baik kalender syamsiyah, maupun qomariyah, dua-duanya diakui oleh Al Quran. Hal ini diketahui dengan penyebutan matahari dan bulan dalam Al Quran. Matahari adalah basis perhitungan kalender masehi, sementara bulan adalah basis perhitungan kalender hijriyah.

Ada tradisi yang dilakukan masyarakat setiap memasuki tahun baru yaitu melakukan perayaan atau peringatan. Dalam pergantian tahun baru masehi event organizer akan mengadakan konser di tempat terbuka. Lalu tepat jam 12 malam dinyalakanlah kembang api sebagai tanda bergantinya tahun. Berbeda dengan tahun baru masehi, tahun baru hijriyah biasanya diisi dengan tabligh akbar, pawai obor atau dzikir berjamaah. Namun ada juga yang mengisi tahun baru masehi dengan dzikir nasional dan tabligh akbar, misalnya seperti yang diadakan republika dan tv one.

Pergantian tahun selayaknya diperingati dengan sewajarnya dan diisi oleh sesuatu yang bermanfaat. Banyak fenomena yang membuat kita miris dalam perayaan tahun baru. Misalnya banyak anak muda yang menjadikan momen pergantian tahun untuk melakukan seks bebas. Setelah malam perayaan tahun baru banyak kondom berserakan. Banyak juga yang memperingati tahun baru dengan berfoya-foya dan mabuk-mabukan. Momen pergantian tahun menjadi sarana merusak moral generasi muda. Kita sebagai umat Islam tidak boleh ikut-ikutan melakukan tradisi yang buruk semacam di atas. Kita harus memaknai pergantian tahun dengan benar dan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Ada dua hal bermanfaat yang bisa kita lakukan memanfaatkan momentum tahun baru yaitu introspeksi diri dan resolusi.

Allah swt. berfirman dalam surat Al Hasyr ayat 18, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri kalian memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok”. Dalam kitab-kitab tafsir makna ayat ini adalah bahwa hendaknya kita memperhatikan kehidupan dunia untuk menyiapkan kehidupan akhirat. Namun ayat ini pun dapat difahami bahwa hendaknya kita dapat mengambil pelajaran dari masa lalu, untuk menyiapkan hari esok yang lebih baik. Sahabat Umar bin Khaththab r.a. pernah mengatakan, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab”. Pemaparan di atas menunjukan bahwa introspeksi diri merupakan sesuatu yang dianjurkan dalam Islam. Kita perlu melakukan introspeksi guna mengetahui kesalahan-kesalahan telah dilakukan. Saat kita tahu kesalahan kita di hari kemarin kita akan bertekad tidak mengulanginya. Seorang mukmin tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Daripada mengisi momen pergantian tahun dengan hura-hura, lebih baik kita menggunakannya untuk melakukan instrospeksi atas apa yang telah kita lakukan tahun lalu.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali mengutip sebuah hadits, “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin, maka dia orang yang merugi. Barangsiapa yang lebih buruk dari kemarin, maka dia termasuk orang yang celaka.” Sanad hadits ini adalah dhaif, oleh karena itu sebagai bentuk kehati-hatian anggap saja ini perkataan hikmah dan bukan hadits yang dinisbatkan kepada nabi. Walaupun sanadnya dhaif, namun matan hadits ini benar dan dapat kita ambil faidahnya. Intinya adalah seorang muslim itu harus senantiasa berubah menjadi lebih baik setiap harinya. Untuk berubah menjadi lebih baik, tentu diperlukan visi dan perencanaan. Visi dan perencanaan ini bisa disebut juga resolusi. Kita bisa memanfaatkan momentum awal tahun untuk menentukan resolusi atau tujuan yang ingin dicapai pada tahun 2016 ini. Resolusi hendaknya tidak perlu terlalu banyak, sedikit saja yang penting terealisasi. Misalnya tahun ini kita ingin bisa Bahasa Inggris atau Bahasa Arab. Atau tahun ini kita ingin mendapatkan penghasilan yang bebas riba. Semua itu bisa direncanakan dan ditekadkan dari sejak awal tahun. Dengan mengamalkan introspeksi dan resolusi Insya Allah kita akan menjadi seorang muslim yang produktif dan bermanfaat bagi orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here