Masih Relevankah Jarh wa Ta’dil?

0
161

Dalam ilmu hadits ada yang dinamakan jarh wa ta’dil. Jarh artinya menjelaskan kecacatan seseorang. Ta’dil artinya menjelaskan keadilan (kebaikan) seseorang. Jarh wa ta’dil ini digunakan sebagai perangkat kritik sanad. Jika kita ingin tahu benar atau tidaknya sanad sebuah hadits, maka nama-nama dalam sanad tersebut kita cek dalam kitab jarh wa ta’dil. Jika ternyata orang tersebut dinilai cacat, maka sanadnya menjadi lemah. Sebaiknya jika ternyata orang tersebut menurut ulama adil (bagus akhlaknya), maka sanadnya kuat.

Hari ini ada beberapa kelompok yang kembali menerapkan jarh wa ta’dil namun bukan untuk meneliti hadits. Ada yang menggunakan jarh wa ta’dil untuk menilai ustadz mana yang boleh didengarkan dan ustadz mana yang gak boleh didengarkan. Ustadz yang gak sefaham dengan mereka di jarh, dilabeli majhul. Majhul artinya tidak dikenal, maksudnya tidak dikenal oleh ulama kibar. Ulama kibar adalah ulama arab asli yang sesuai faham mereka.

Ulama majhul ini dianggap sesat dan menyimpang. Terkadang mereka melabeli dengan sebutan harakiy atau sururiy. Intinya sama jangan dengarkan ceramah ustadz itu. Dengarkan saja ceramah ustadz-ustadz kami.

Sebenarnya adalah kebodohan yang sangat besar menerapkan jarh wa ta’dil untuk menilai ustadz yang berdakwah. Jarh wa ta’dil hanya berlaku dalam ilmu hadits. Memperluas cakupan jarh wa ta’dil untuk menyerang ustadz yang gak sefaham adalah bid’ah yang nyata. Dalam menilai ustadz kaidah yang harus kita pakai:

1. Lihatlah apa yang dibicarakan jangan melihat siapa yang berbicara.
2. Hikmah itu adalah barang kaum muslimin yang hilang ambillah dimanapun kamu menemukannya.

Inilah pemahaman yang benar dan selamat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here