Making Sustainable IMM

0
168

“Mohon saran dan kritik kang!”, sebuah pesan masuk di whatsapp saya dari seorang kader IMM. Saya berfikir sejenak, akhirnya saya menemukan sesuatu untuk dishare.

Sepengamatan dan pemahaman saya selama ber-IMM, ada 3 jenis IMM. Pertama, IMM vakum. Kedua, IMM aktif. Ketiga, IMM sustainable. Mari kita bahas satu per satu.

IMM vakum diambil dari bahasa Inggris vacuum yang artinya kosong. Ada istilah vacuum of power yang artinya kekosongan kekuasaan. IMM vakum adalah IMM yang kosong dari kegiatan. Pimpinannya ada tapi hanya sekedar nama. Programnya tercantum namun hanya sekedar rencana. Dalam bahasa Arab disebut laa yahyaa wa laa yamuut. Hidup segan mati tak mau.

IMM vakum harus diaktifkan kembali. Perlu ada kader-kader yang konsisten berusaha menghidupkannya. Pimpinan di atasnya harus memperhatikan, tidak boleh dibiarkan. Pimpinan IMM aktif yang berada di dekatnya juga harus peduli kepada tetangganya yang vakum.

Jika suatu pimpinan IMM sudah keluar dari kevakuman maka IMM tersebut menjadi IMM aktif. IMM aktif adalah IMM yang pimpinannya bergerak untuk mengadakan program dan kegiatan. Perkaderan berjalan secara rutin. Event-event lain seperti seminar dan baksos juga senantiasa terselenggara.

IMM aktif adalah IMM yang hidup. Namun apakah itu cukup? Buya Hamka pernah mengatakan kalau hidup cuma sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Maka dari itu pimpinan IMM yang aktif tak boleh puas lalu berhenti pada step ini. Perlu ada peningkatan kepada tingkatan selanjutnya, yakni IMM sustainable.

IMM sustainable membuat program dan event yang bersifat berkelanjutan. Program dan event yang dibuat tak hanya seremonial semata. Namun ada impact yang dituju dan didapat dari program tersebut. Dampak sosial inilah yang membuat kerja IMM menjadi sebuah karya nyata.

Saya beri contoh kawan saya salah satu aktifis IMM di Ponorogo. Dia tinggal di sebuah kampung yang belum ada Muhammadiyah di sana. Kemudian dia mengajak kader-kader IMM baksos di kampungnya tersebut. Jika baksos tersebut dilaksanakan hanya sekali, lalu setelahnya kita sama sekali tidak pernah mengunjungi lagi kampung tersebut, itu tidaklah sustainable. Namun kawan saya tak hanya sekali melakukan baksos, namun setiap tahun baksos di sana, sampai pada tahun keempat berdirilah ranting Muhammadiyah di kampung tersebut.

Cerita di atas merupakan contoh kecil dari berbagai aktifitas dan program kerja yang sustainable. Saya akan beri contoh kembali dari sebuah LSM yang saya kenal. Mereka membangun sebuah aktifitas di desa berupa pemberdayaan perempuan. Karena sudah melaksanakan aktifitas, mereka kemudian mencoba datang kepada dinas pemberdayaan perempuan di Jabar. Pada awalnya mereka dicurigai sebagai LSM yang cuma bisa minta setoran. Mereka hanya diterima oleh staf. Setelah mereka presentasi aktifitas mereka, mereka lalu diarahkan langsung menuju kepala dinas.

Memang kelebihan LSM tersebut mereka dapat donor dari negara lain. Hal ini menjadi modal untuk mereka melakukan aktifitas terlebih dahulu sebelum dipresentasikan di hadapan pemerintah. Namun IMM pun bisa jika punya kemauan dan kreatifitas untuk melakukannya. Dua hal di atas hanya contoh kecil, sisanya ada pada kreatifitas kader-kader IMM. Tentu program tersebut tak hanya yang bersifat humanitas, namun bisa juga intelektualitas dan religiusitas.

Terakhir mari kita terus bergerak, dari vakum menjadi aktif, dan yang sudah aktif menjadi sustainable IMM.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here