Khilafah itu Tidak Baku

0
157

Saat Nabi Muhammad SAW. lahir lalu menyebarkan risalah, sistem pemerintahan yang ada dan paling ideal pada zaman itu adalah imperium. Imperium ini semacam kerajaan namun cakupan wilayahnya sangat luas, bisa lintas benua. Dari kata imperium ini lahirlah yang disebut dengan imperialisme, yakni aktifitas memperluas imperium dengan menaklukan daerah yang bukan bagian dari imperiumnya.

Pada masa Nabi ada 2 imperium besar yang digdaya, yakni imperium Romawi dan imperium Persia. Sebelumnya sudah ada imperium lain yang mendahului misalnya imperium Mesir Kuno dan Babilonia. Imperium dipimpin oleh seorang kaisar. Seperti hal nya manusia, imperium mengalami masa lahir, tumbuh, jaya lalu kemudian mati. Imperium-imperium tersebut tak jarang meninggalkan karya monumental misalnya piramida dan sphinx.

Karena pada masa Rasulullah Saw. Sistem kekuasaan yang lazim pada zaman itu adalah imperium, maka menjadi sesuatu yang sangat wajar dan rasional bahwa Islam pada akhirnya tumbuh juga menjadi imperium. Hal ini bukam karena wahyu Allah, namun karena situasi politik pada zamannya. Zaman khulafa rasyidin perluasan dan penaklukan wilayah dimulai. Pada waktu itu belum ada istilah khalifah, karena dari Abu Bakar sampai Ali dipanggil amirul mukminin, bukan khalifah. Gelar khalifah pertama kali disandang oleh Abdul Malik bin Marwan salah satu raja pada dinasti Umayyah. Saat wilayah Islam sudah sangat luas, maka berdirilah imperium umat Islam yang kita bisa sebut khilafah. Tentu seperti siklus peradaban pada umumnya, imperium umat Islam pun pada akhirnya tetap menemui ajalnya.

Sampai pada akhirnya mulailah abad pencerahan dimana gagasan kerajaan dan imperium dianggap sudah tidak sesuai dengan semangat zaman. Kemajuan demi kemajuan yang dialami manusia meniscayakan sebuah sistem kekuasaan baru, maka diubahlah menjadi sistem negara bangsa (nation-state). Pada saat gagasan ini lahir imperium umat Islam sudah memasuki masa lanjut usia. Masa-masa kejayaannya di bawah Harun Ar Rasyid dan Muhammad Al Fatih telah lama lewat. Imperium terakhir umat Islam yakni Ottoman pada akhirnya runtuh juga pada 1924.

Tentu kita dapat dengan mudah menyalahkan pihak-pihak luar atas keruntuhan ini. Namun yang jelas zaman terus maju, perubahan tak dapat dihindari, siapapun yang melawan akan tergilas. Yang menarik justru Negara Saudi Arabia lah yang pada masa awal berkonflik dengan Turki Usmani dan mendirikan kerajaan sendiri. Diikuti dengan negara-negara Arab Islam lainnya.

Dalam politik tak ada yang sempurna, kita hanya bisa memilih yang paling mending dari yang jelek. Sistem negara-bangsa pun ada efek sampingnya, misalnya ultra nasionalisme dan chauvinisme. Manusia seolah-olah dikotak-kotakkan oleh sekat suku bangsa. Alhamdulillah ternyata Al Quran punya solusi, yakni manusia memang diciptakan berbangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Lalu manusia tidak boleh melupakan bahwa mereka punya nenek moyang yang sama yakni Adam dam Hawa. Hal ini membuat sistem nation state bisa berkompromi dengan kemanusiaan.

Hari ini ternyata zaman semakin maju lagi. Batas-batas negara sudah semakin hilang ditelan canggihnya teknologi informasi. Hari ini pergaulan dan interaksi antara pluralitas manusia sudah sangat sulit dihindari. Mari kita maju terus, jadikan masa lalu sebagai pelajaran agar tak mengulangi kesalahan yang sama pada masa kini. Masa lalu jangan diberhalakan seolah menjadi obat mujarab bagi semua persoalan masa kini. Jangan biarkan masa lalu membunuh masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here