Jangan Marah, Surga Bagimu

0
115

Laa taghdhab wa lakal jannah. Begitulah penggalan hadits yang saya dengar dari seorang santriwati pada saat praktik khitobah. Artinya jangan marah, surga bagimu.

Lantas kenapa Nabi menyuruh kita jangan marah? Bukankah marah itu sesuatu yang sangat manusiawi? Terlebih seorang yang tak pernah marah maka dianggap tak memiliki ghirah dan terjangkit sifat dayuts.

Saya disadarkan makna hadits ini tatkala melihat fenomena aksi main hakim sendiri yang menimpa seorang tukang reparasi amplifier. Jangan marah, ya seringkali saat kita marah maka diri kita dikuasai oleh emosi. Saat dikuasai oleh nafsu amarah otak reptil kita bekerja sementara otak homo sapiens kita tidak berfungsi. Lalu muncullah tindakan berdasarkan spontanitas yang terkadang di luar nalar sehat.

Ya, jangan marah maksudnya jangan bertindak atas dasar emosi semata. Seorang hakim haram mengetuk palu saat sedang marah. Kita jika marah dianjurkan membaca ta’awwudz lalu mengambil air wudhu. Gunanya agar rasionalitas kita kembali dahulu saat akan bertindak. Maka ada pepatah mengatakan hati boleh panas, namun otak harus tetap dingin.

Jelas bahwa ungkapan jangan marah bukan berarti kita tidak boleh marah sama sekali, namun saat marah kita jangan mengambil tindakan sebelum emosi reda dan rasionalitas kembali. Jika kita memutuskan secara rasional maka kita tidak akan melakukan tindakan yang membawa kita ke neraka. Contohnya membakar orang.

Laa taghdhab wa lakal jannah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here