Ijtihad dalam Politik

0
99

Dalam konsep dan fikiran manusia, ada hitam dan ada putih yang murni. Dalam realitas, tidak ada hitam dan putih murni. Yang ada sesuatu yang hitam masih ada putihnya dan sesuatu yang putih masih ada hitamnya.

Bersikap objektif atau adil adalah mengatakan bahwa kamu hitam, namun masih ada putihnya. Kamu putih, namun masih ada hitamnya. Hal ini menjadi suatu keharusan dalam dunia akademik namun tidak berlaku dalam politik praktis. Politik meniscayakan subjektifitas pelakunya terhadap sesuatu yang dia perjuangkan.

Jika si anu sudah memutuskan mendukung hitam dan tak mendukung putih, maka dia akan mendewakan si hitam dan mensetankan si putih. Sebaliknya jika si una memutuskan mendukung putih dan tak mendukung hitam, maka dia akan mendewakan si putih dan mensetankan si hitam. Lantas jika anda mencoba menilai si hitam dan si putih secara objektif, anda bilang si hitam baik namun ada jeleknya, si putih baik namun ada jeleknya juga. Niscaya anda akan dikritik oleh pendukung si hitam maupun si putih.

Pertanyaannya kemudian apakah subjektifitas dan partisan dalam politik itu salah? Saya tidak menyalahkan hal itu karena hakikatnya politik adalah pemihakan. Pemihakan meniscayakan adanya unsur subjektiftas. Namun hendaknya unsur subjektifitas itu kita batasi sekitar 20-30 % saja, kalau perlu hanya 10 %. Sisanya adalah hasil ijtihad nalar objektif kita dalam menilai kemana kita harus berpihak.

Adakah yang benar-benar objektif menyangkut pemikiran sosial politik? Ah inilah akar masalahnya. Seringkali objektifitas dipengaruhi oleh ideologi, worldview atau akidah penganutnya. Maka boleh jadi apa yang rasional dan objektif bagi saya, belum tentu rasional dan objektif menurut anda, karena saya dan anda beda ideologi. Sudah pasti tak akan ada titik temu, dan tak ada pilihan lain selain memihak.

Pemihakan bagi saya fardhu kifayah, saat terjadi konflik antara ‘Ali dan Mu’awiyah ada beberapa sahabat yang tidak memihak Ali maupun Muawiyah diantaranya Zaid bin Maslamah dan Saad bin Abi Waqash. Mereka memilih netral dan tidak mau terlibat dalam konflik itu. Menjadi netral bukanlah tanpa resiko, yang memilih netral sering kali dituduh setan bisu, tidak punya sikap, plin-plan dll. Yang jelas dalam Islam tak ada paksaan dalam beragama, dalam beragama saja tidak dipaksa apalagi dalam politik.

Pada dasarnya semua pilihan memang ada resikonya, namun semua pilihan punya alasannya masing-masing. Yang jelas mudah-mudahan semua pilihan itu adalah hasil ijtihad yang dapat dua pahala kalau benar dan dapat satu pahala kalau salah. Ijtihad artinya kita mengerahkan seluruh daya fikir kita dalam memutuskan sebuah masalah berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan sebelumnya, mungkin bisa dengan diskusi panjang sampai begadang tidak tidur,itu ijtihad.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here