Halal dan Haram dalam Islam

0
145

Dalam sebuah hadits dari Nu’man bin Bisyr Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

Hadits di atas menerangkan bahwa dalam Islam ada norma berupa halal dan haram. Baik halal maupun haram sebenarnya sudah diterangkan melalui nash Al Quran atau hadits. Ada juga hal-hal yang masih samar, hal ini disebut syubhat. Meninggalkan hal-hal syubhat dinamakan dengan sifat wara’, sifat ini sangat dianjurkan.

Pertanyaan pentingnya adalah apa sajakah benda yang halal? Dan apa sajakah yang haram? Ada sebuah kaidah yang berbunyi : Asal dari segala sesuatu itu halal, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Maka dari itu yang perlu kita cari adalah dalil benda-benda yang diharamkan. Apa saja dalilnya?

“Diharamkan kepada kamu (memakan) bangkai (binatang yang tidak disembelih), dan darah (yang keluar mengalir), dan daging babi (termasuk semuanya), dan binatang-binatang yang disembelih kerana yang lain dari Allah, dan yang mati tercekik, dan mati dipukul, dan yang mati jatuh dari tempat yang tinggi, dan yang mati ditanduk, dan yang mati dimakan binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih (sebelum habis nyawanya), dan yang disembelih atas nama berhala; dan (diharamkan juga) kamu menenung nasib denagn undi batang anak panah. Yang demikian itu adalah perbuatan fasik.” (QS. Al Maidah :3)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bahawa sesungguhnya arak, dan judi, dan penjualan berhala, dan mengundi nasib dengan batang-batang anak panah, adalah (semuanya) kotor (keji) dari perbuatan syaitan. Oleh itu, hendaklah kamu menjauhinya supaya kamu berjaya.” (QS. Al Maidah : 90)

Selain Al Quran, ada beberapa hadits yang menerangkan tentang beberapa kriteria binatang yang haram dimakan. Di antaranya binatang buas, binatang bertaring, berkuku tajam dll. Di luar dalil-dalil yang spesifik, pada prinsipnya Allah menghalalkan hal yang baik dan mengharamkan hal yang buruk.

Selain ditentukan oleh zatnya halal atau haram suatu benda juga ditentukan oleh cara mendapatkannya. Misalnya buah apel adalah halal, namun jika kita memiliki buah apel tersebut dengan jalan malinh dari pohon tetangga maka menjadi haram. Tentu bukan zatnya, namun cara memperolehnya.

Selain terhadap benda, halal dan haram juga berlaku dalam kegiatan muamalah. Ada tiga transaksi yang diharamkan, yakni maysir (judi), gharar (penipuan) dan riba (rente). Jika dalam sebuah transaksi ekonomi mengandung salah satu kegiatan ini, maka transaksi tersebut hukumnya menjadi haram.

Dalam rangka kehalalan makanan, minuman, onat-obatan dan kosmetik, MUI membuat BP-POM untuk melaksanakan sertifikasi halal. Sementara itu untuk menetapkan halal dan haram suatu transaksi dalam muamalah, MUI membentuk Dewan Syariah Nasional. Guna lembaga ini adalah untuk memberikan legalitas kehalalan.

Saya fikir konsep halal dan haram di atas cukup jelas. Sampai tiba-tiba ada produsen yang mengeluarkan produk makanan kucing halal. Yang saya tahu bahwa kucing itu tidak kena taklif, mau kucing kita makan daging babi juga dia ga akan masuk neraka. Jadi plis deh, salah kaprah kalau ada yang memberi label halal pada makanan kucing. Kalau mau ya makanan kucing organik, makanan kucing bergizi, makanan kucing sehat, nah ini baru label yang benar.

Setelahnya muncul jilbab halal, alasannya katanya emulsifier yang digunakan untuk mewarnai jilbab ada lemak babinya. Jilbab ini gak pakai itu, tapi pakai bahan lain. Menurut kawan saya yang lulusan kimia sebenarnya emulsifier itu akan hilang ketika dicuci.

Lalu ada telur halal, hal ini ada di Malaysia. Alasannya karena kulit telur itu kemungkinan mengandung najis, jadi telur halal kulitnya higienis. Lah yang kita makan kan isi telurnya? Bukan cangkangnya?

Terakhir kulkas halal, materialnya halal katanya. Mbuh lah. Namun saya agak khawatir kita termasuk dalam firman Allah berikut:

“Katakanlah (wahai Muhammad): Siapakah yang (berani) mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya, dan demikian juga benda-benda yang baik lagi halal dari rezeki yang dikurniakanNya? Katakanlah: Semuanya itu ialah (nikmat-nikmat) untuk orang-orang yang beriman (dan juga yang tidak beriman) dalam kehidupan dunia; (nikmat-nikmat itu pula) hanya tertentu (bagi orang-orang yang beriman sahaja) pada hari kiamat. Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat keterangan Kami satu persatu bagi orang-orang yang (mahu) mengetahui.” (QS. Al A’raf :32)

“Dan janganlah kamu berdusta dengan sebab apa yang disifatkan oleh lidah kamu: “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan sesuatu yang dusta terhadap Allah; sesungguhnya orang-orang yang berdusta terhadap Allah tidak akan berjaya.” (QS. An Nahl : 116)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here