Fildafat dan Kejayaan Islam

0
155

Jika kita ditanya apakah umat Islam pernah mencapai masa kejayaan dan masa keemasan? Maka kita akan menjawab ya. Kapan itu? Berabad-abad yang lalu saat khilafah masih berdiri. Lalu ditariklah kesimpulan bahwa untuk mencapai kejayaannya kembali harus kembali didirikan institusi khilafah.

Lantas kita ditanya lagi apa buktinya bahwa umat Islam pernah jaya? Kita akan menjawab bahwa khilafah islam pernah menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Yaitu pada masa kekhalifahan Harun Ar Rasyid dan anaknya Al Ma’mun. Mereka berdua merupakan khalifah Bani Abbasiyah yang beribukota di Baghdad. Mereka membangun pusat pengembangan ilmu yang dinamai Bait Al Hikmah. Kita pun tak akan lupa menyebut nama-nama seperti Ibnu Sina sang ahli kedokteran. Ibnu al Haytsam pakar optik. Jabir ibn Hayyan pakar kimia. Al Khawarizmi pakar matematika. Al Farabi pakar filsafat. Dll.

Al Ma’mun pengganti Harun Ar-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu filsafat. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa Al-Ma’mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Pertanyaannya apakah kita ingin kembali mengembalikan kejayaan Islam pada masa kini? Kalau mau ya ikuti langkah-langkah Bani Abbasiyah tadi. Mari kita mulai belajar filsafat. Kalau takut belajar filsafat ya minimal jangan alergi dengan filsafat. Umat Islam pada masa khilafah Bani Abbasiyah adalah umat yang percaya diri. Mereka gak takut dan gak alergi mengambil ilmu dari orang-orang yang tidak seagama. Tentu mereka pun punya filter agar tidak mengganggu keimanan.

Nah pasca Al Farabi dan Ibnu Rusyd, filsafat malah berkembang di barat dan maju juga kan. Barat pun seharusnya berterima kasih kepada Al Farabi dan Avveroes, karena berkat disyarah oleh dua filsuf muslim filsafat Yunani yang njelimet bisa lebih disederhanakan.

Ah kamu ngaco! Untuk mengembalikan kejayaan Islam itu ya kembali kepada Al Quran, kok malah mengagung-agungkan ilmu filsafat? Loh siapa yang tidak kembali kepada Al Quran? Khalifah Al Ma’mun mencintai ilmu filsafat justru karena pendalamannya terhadap Al Quran. Dalam Al Quran banyak sekali ayat-ayat yang mendorong kita berfikir dan pujian terhadap ahli fikir. Misalnya afalaa ta’qilun, afaala tatadabbarun, afala yanzhuruun, ulul albab, ulul abshar, ulun nuhaa dll. Lalu apanya yang bertentangan dengan Al Quran?

Namun tak dapat kita pungkiri, filsafat tidak populer khususnya di kalangan muslim sunni. Imam Syafi’i dan ulama syafi’iyah mengecam keras ilmu filsafat. Imam al Ghazali adalah filsuf yang pada akhirnya memilih jalan tasawuf dan mengkritik beberapa pandangan filsuf. Yang tetap membela filsafat adalah seorang fuqoha dari Andalusia yang bernama Ibnu Rusyd.

Saya mengajak kita agar konsisten dengan gagasan yang kita bangun. Jika kita ingin mengembalikan masa keemasan Islam, faktanya pada waktu itu filsafat dan sains sangat berkembang. Maka sekarang pun kita harus belajar filsafat dan sains serta tidak alergi mengambil ilmu dari manapun.

Namun jika kita lebih nyaman dengan pendapat yang mengharamkan filsafat ya silahkan juga. Namun tak perlu lah mengangkat gagasan kejayaan Islam dan tak perlu juga membangga-banggakan person seperti Ibnu Sina, karena dia adalah seorang filsuf.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here