Dua Perempuan di Tahun 2017

0
68

Beberapa bulan yang lalu saya menonton film besutan Hanung Bramantyo yang dibintangi Dian Sastro, judulnya Kartini. Film ini membuat kita lebih mengenal Kartini dari sekedar lagu “ibu kita kartini” atau parade anak-anak dengan baju daerah. Dikisahkan Kartini mengalami masa-masa pingitan, untungnya dia mempunyai kakak yang pintar dan sering memberinya buku berbahasa Belanda. Dari sana minat baca Kartini muncul dan ia ingin bebas dari segala adat-adat yang mengekang wanita pada zaman itu. Di akhir kisah Kartini mendapat beasiswa studi di Belanda, namun tidak diambilnya karena menikah. Karena Kartini tidak jadi berangkat, H. Agus Salim menggantikannya belajar di Belanda.

Baru kemarin saya dan rombongan tunas-tunas persyarikatan nonton bareng di bioskop, kali ini film yang ditonton berjudul Nyai Ahmad Dahlan. Fikiran saya langsung kembali kepada film Kartini, karena mereka berdua adalah sama-sama tokoh perempuan yang hidup di zaman pra kemerdekaan. Fikiran nakal saya pun muncul, kira-kira lebih seru mana ya antara dua film ini?

Film Nyai Ahmad Dahlan dibuka dengan adegan dimana Kyai Fadhil ayah dari Siti Walidah (nama sebenarnya Nyai Ahmad Dahlan) mengajari perempuan-perempuan mengaji. Kyai Fadhil digambarkan sebagai seorang kyai yang progresif pada zamannya. Hal ini karena dia berpendapat bahwa perempuan boleh berkarir di ruang publik, suatu hal yang tabu pada waktu itu. Di sini letak perbedaan Siti Walidah dengan Kartini, jika Kartini tumbuh dalam tradisi patriarkis akut, Siti Walidah justru tumbuh dalam lingkungan yang lebih ramah perempuan.

Siti Walidah lahir pada tahun 1872, sementara Kartini lahir pada 1879. Namun Kartini ditakdirkan untuk mati muda, sementara Siti Walidah sempat satu tahun merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafatnya. Saya membayangkan jika Kartini umurnya lebih panjang, mungkin akan bersama-sama dengan Siti Walidah menjadi aktivis pergerakan perempuan. Jika kita sudah menonton film Kartini dan Nyai Ahmad Dahlan, jelas terlihat bahwa ada etos yang sama tentang perempuan.

Kemudian sampailah pada kisah pernikahan antara Siti Walidah dengan Muhammad Darwis (nama kecil KH. Ahmad Dahlan). Setelah keduanya menikah ditampilkan adegan-adegan tentang kisah-kisah yang populer di kalangan warga Muhammadiyah. Misalnya kisah ancaman pembunuhan Kyai Dahlan saat akan ke Banyuwangi, kisah saat kyai Dahlan melelang barang pribadinya dan kisah saat kyai Dahlan memaksakan diri ceramah walau kondisi sakit. Kisah-kisah ini melengkapi cerita tentang Al Ma’un yang sangat populer itu pada film Sang Pencerah.

Film ini juga sarat dengan muatan pesan moral, hampir setiap adegannya ada pesan moralnya. Seringkali pesan moral ini disampaikan dalam bentuk verbal, sang aktor seolah sedang menjadi penceramah dan penonton bioskop adalah jamaahnya. Ini terjadi dalam 30 menit pertama film ini, menurut saya justru membuat film menjadi kurang menarik. Namun setelah 30 pertama sampai akhir film ini mulai menunjukan adegan-adegan yang sangat menarik untuk ditonton.

Film ini juga sarat dengan pengetahuan sejarah, fase-fase kehidupan Siti Walidah digambarkan dengan cukup lengkap. Karena itu dari fase ke fase seringkali digambarkan dengan singkat dan tidak mendalam. Padahal sebenarnya kita bisa mengambil peristiwa yang paling penting dalam kisah hidupnya dan digambarkan dengan mendalam.

Ada satu hal lagi yang menarik untuk saya komentari, yakni soal musik dalam film ini. Jika saya perhatikan pada awal film ini, setiap adegan ada saja musik latarnya. Musik latar ini diambil dari instrumen mars sang surya, mars Aisyiyah, lir ilir dan ost film ini berjudul cinta melampaui zaman. Saya fikir jangan setiap adegan ada latar musiknya. Menurut saya ost. Film ini yang diciptakan oleh Mas Izzul Muslimin enak sekali untuk didengar. Lalu setelah menonton film ini bagi yang belum hafal mars Aisyiyah mungkin bisa langsung hafal.

Terlepas dari berbagai komentar positif dan negatif yang pasti selalu ada, namun film ini sangat layak diapresiasi. Klaim bahwa film ini bermuatan pendidikan karakter bukanlah isapan jempol semata. Kita tak akan kecewa jika mengajak anak-anak usia sekolah menonton film ini. Film ini juga dapat menjadi inspirasi bagi pasangan yang sudah berumah tangga untuk saling menguatkan dalam berjuang di persyarikatan. Bagi jomblo mungkin bisa bikin baper dan bertanya, kapan ya saya bisa mendapat pasangan seperti Ahmad Dahlan atau Siti Walidah? Jadi bagi yang belum ke bioskop kapan mau nonton Nyai Ahmad Dahlan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here