Diaspora Kader Ikatan

0
112

Menurut kamus Merriam-Webster, diaspora bermakna the movement, migration, or scattering of a people away from an established or ancestral homeland. Diaspora adalah perpindahan, migrasi atau penyebaran sekelompok orang keluar dari tanah air nenek moyangnya. Kata diaspora berakar dari kisah kaum yahudi yang menyebar ke luar tanah Palestina Kuno karena diusir oleh orang Babilonia. Kaum yahudi kemudian membentuk koloni-koloni di berbagai wilayah di dunia.

Menurut kamus Oxford diaspora bermakna orang Yahudi yang hidup di luar negara Israel. Diaspora juga bermakna penyebaran sekelompok orang yang keluar dari tanah airnya. Diaspora berasal dari bahasa Yunani diaspeirein. Diambil dari kata dia yang artinya menyebrang dan sperein yang artinya menyebar. Kata ini terdapat dalam perjanjian lama Kitab Deuteronomy 18:25.

Walaupun istilah diaspora berasal dari kaum Yahudi, namun dalam praktiknya umat Islam pun pada masa awal melakukan diaspora. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat bersama-sama meninggalkan tanah air mereka Mekkah menuju ke tempat baru yakni Madinah Al Munawwarah. Hal ini karena di Mekkah Nabi Muhammad dan para sahabat ditindas oleh kafir Quraisy.

Setelah sukses membebaskan Kota Mekkah, para khalifah setelah Nabi pun mendiasporakan kader-kadernya untuk menaklukan wilayah-wilayah sekitar. Afrika Utara, Persia dan Andalusia berhasil menjadi wilayah kekuasaan Islam. Sampai pada akhirnya Romawi Timur berhasil ditaklukan juga oleh Muhammad Al Fatih pada tahun 1453 M.

Pertama kali saya mendengar istilah ini saat mengikuti Darul Arqam Madya yang diadakan PC IMM Sleman pada tahun 2014 silam. Makna diaspora dalam IMM sudah berubah dari makna dalam kamus. Diaspora kader IMM adalah penyebaran kader IMM setelah menyelesaikan amanahnya dalam Ikatan. Intinya setelah selesai ber-IMM mau jadi apa? Mau berkiprah dimana? Inilah makna sederhana dari diaspora yang akan kita bahas.

Diaspora adalah proses terakhir yang dilalui seorang kader selama ber-IMM. Seorang kader tak akan selamanya menjadi kader, pada akhirnya dia akan menjadi alumni juga. Dalam wacana perkaderan, yang selama ini menjadi isu utama adalah bagaimana mendapatkan kader, bagaimana cara mengkader yang benar dan bagaimanakah profil kader ikatan.

Masih banyak yang belum memikirkan dengan serius kemana si kader akan berkiprah setelah beres di IMM. Hal ini berimbas setelah beres IMM, kader dilepas dan dibiarkan bertahan sendirian di luar IMM untuk menapaki karirnya. IMM sebagai organisasi sudah lepas tangan dan tidak berkontribusi lagi bagi kadernya. Hal ini menyebabkan jika si kader yang sudah selesai ber IMM kemudian menjadi orang yang sukses, maka mungkin saja dia tidak terlalu peduli dengan eksistensi IMM. Toh selama dia susah-susah menapaki karir, IMM tak pernah peduli dengannya. Giliran sudah sukses baru saja ramai-ramai mengajukan proposal sama dia.

Tentu lain halnya jika menjelang beres dari IMM, pimpinan IMM mengetahui ada kader yang mempunyai keinginan untuk berkiprah di suatu tempat. Kemudian oleh pimpinan bersangkutan kader ini didukung dan dibantu sampai akhirnya keinginannya terpenuhi. Maka sudah sepantasnya si kader tak akan melupakan jasa IMM dan akan terus berkontribusi kepada IMM walau sudah menjadi alumni. Misalnya kalau diajukan proposal pasti memberi.

Jika kita lihat dari perspektif moral yang ideal, tentu saja kurang pantas jika hubungan antara alumni dengan kader yang masih aktif didasarkan pada utang budi seperti uraian di atas. Seorang alumni selayaknya punya tanggung jawab moral terhadap adik-adiknya yang masih aktif. Terlepas dari adik-adiknya punya peran langsung atau tidak terhadap kesuksesannya. Namun yang menjadi titik tekan dalam tulisan ini adalah agar diaspora bisa terdesain dengan baik. Hal ini jauh lebih baik daripada diaspora yang dibiarkan secara apa adanya tanpa desain.

Bagaimana cara mendesain diaspora kader? Ada tiga hal yang perlu dilakukan, yakni identifikasi minat kader, persiapan kapasitas kader dan networking. Misalnya seorang kader setelah beres ber-IMM diidentifikasi ingin mendapatkan beasiswa LPDP. Maka langkah selanjutnya adalah persiapan kapasitas kader. Salah satu hal yang dibutuhkan oleh pendaftar LPDP adalah skor TOEFL. Maka tak ada salahnya jika IMM mengadakan kegiatan belajar TOEFL bersama. Sampai akhirnya skor TOEFL kader cukup untuk mendaftar LPDP. Setelah itu dengan networking yang dimiliki ternyata ada kader Muhammadiyah yang sudah jadi penerima beasiswa LPDP atau ada pimpinan Muhammadiyah yang jadi tim seleksi LPDP. Maka didatangkanlah mereka untuk memberi tips dan trik agar lulus beasiswa LPDP.

Kasus lain misalnya ada kader yang teridentifikasi ingin menjadi staf di komisi pemilihan umum Kota/Kabupaten. Maka IMM perlu melakukan persiapan kapasitas kader tersebut, misalnya dengan mengadakan kajian tentang undang-undang kepemiluan. Peningkatan kapasitas juga dilakukan dengan latihan soal-soal tentang kepemiluan. Setelah itu dengan networking yang dimiliki kader-kader IMM didatangkanlah anggota KPU yang sudah terpilih untuk memberikan tips dan trik bagaimana agar bisa lolos menjadi staf KPU.

Dua hal di atas hanya contoh saja, namun bisa diterapkan dalam berbagai bidang. Ada kader yang berminat menjadi aktifis parpol, aktifis LSM, PNS, wirausaha, dosen, guru, semuanya perlu didesain oleh IMM dan jangan dibiarkan begitu saja. Dalam anggaran dasar IMM bab 8 pasal 3 disebutkan bahwa salah satu tugas IMM adalah membantu para anggota khususnya dan mahasiswa pada umumnya dalam menyelesaikan kepentingannya.

Dalam praktiknya yang saya nilai sudah cukup bagus dalam melakukan diaspora kader adalah PC IMM Kuningan diikuti oleh PC IMM Kab. Tasikmalaya. Ya itu yang saya tahu, mungkin banyak yang saya tidak tahu namun sudah berhasil juga mendiasporakan kader-kadernya. Sehingga kita bisa mengamalkan perintah Allah SWT dalam QS. Al-Jumu’ah : 10 “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here