Buka Puasa Bersama Rocky Gerung

0
345

Saya tahu (bukan kenal lho ya) Rocky Gerung jauh sebelum dia dikenal oleh netizen. Pada mulanya saya follow dia di twitter. Yang saya tahu dia adalah filsuf dan dosen filsafat di Universitas Indonesia. Saya menikmati twit-twitnya yang beda dari yang lain, tentu saja filosofis. Ternyata dia juga adalah dosen dari kawan saya Ginan di departemen filsafat UI.

Pada bulan Ramadhan tahun 2014 waktu itu saya semester 6 kuliah. Sudah menjadi tugas wajib dari kampus mahasiswa semester 6 harus melaksanakan magang di sebuah instansi. Saya magang di LAZISMU PP. Muhammadiyah. Hal ini membuat saya harus pulang pergi Bogor-Jakarta setiap hari dengan commuter line. Karena waktu itu jiwa mahasiswa saya masih kuat, maka saya punya hobi mencari takjil gratis. Waktu itu saya masih sering twitteran, dari twitter itu saya dapat info tentang kegiatan-kegiatan diskusi. Tentu saja selain diskusi ada takjil dan makan beratnya, sambil menyelam minum air, otak dapat ilmu dan perut kenyang.

Suatu saat saya dapat info mengenai diskusi yang diadakan oleh freedom institute. Tema diskusinya adalah mungkinkah demokrasi tanpa liberalisme? Yang menjadi pemateri adalah Akhmad Sahal (orang ini juga saya sudah lama follow twitternya) dan Rocky Gerung. Jam 4 sore setelah shalat Ashar saya pulang dari kantor PP Muhammadiyah di Jalan Menteng Raya. Saya naik KRL ke stasiun Gondangdia lalu turun di stasiun Cikini. Setelah itu saya berjalan kaki sekitar 10 menit ke Jalan Proklamasi tempat perpustakaan freedom institute berada. Waktu dulu belum ada gojek, kalau sekarang dari Menteng tinggal naik gojek.

Saya lalu berbuka puasa di sana dengan hidangan yang nikmat. Setelah shalat Maghrib, diskusi dimulai. Saat itulah saya melihat Rocky Gerung secara langsung. Ternyata memang dia adalah seorang yang filsuf yang sangat nyentrik dan asyik. Beliau dapat menyajikan filsafat yang mendalam dengan cara yang asyik bahkan menimbulkan gelak tawa. Setelah itu saya bilang ke kawan saya Ginan bahwa saya ngefans dengan Rocky Gerung. Saya lalu searching video kajian di youtube. Dan wow, saya menemukan materi-materi yang sangat “mengerikan” untuk orang awam namun ya biasa saja bagi saya. Saya melihat Rocky ini seorang liberal tulen, entah agamanya apa mungkin ateis atau agnostik. Namun saya merasa tidak etis jika harus menanyakan itu kepada Rocky.

Setelah bulan Ramadhan itu, saya sudah tidak mengikuti pemikiran-pemikiran yang genit-genit model begitu. Saya lebih banyak mengurus skripsi, IMM dan kemudian bekerja. Sampai saat musim pilkada Jakarta, saya melihat Rocky tampil di ILC. Gayanya masih seperti yang dulu, argumennya masih canggih seperti biasanya. Namun yang berbeda kali ini dia menjadi partisan dari pasangan AHY. Saya bisa memahami kedekatan Rocky dengan SBY, karena bagi saya SBY adalah seorang liberal demokrat, maka cocok-cocok saja dengan Rocky. Namun karena lawan AHY adalah ahok, dan lawan ahok adalah kelompok Islamis, maka mau tidak mau Rocky berada dalam satu kubu dengan kaum Islamis yang kadang dia kritik.

AHY kemudian tak berhasil menjadi gubernur, Rocky Gerung tetap konsisten dengan posisi sebagai oposan pemerintah. Hal ini dapat kita lihat dari twitnya atau statementnya di ILC. Seingat saya saat diskusi di freedom institute dahulu dia lebih memilih Jokowi daripada Prabowo, mungkin saya yang sah tafsir. Seperti biasa statementnya selalu asyik, misalnya IQ 200 sekolam. Dia juga mengkritik pemerintah sebagai pembuat hoax yang terbaik. Saya melihat kritik Rocky cukup asyik untuk disimak. Walau tentu saja membuat kelompok pro pemerintah gak suka sama dia. Selama ini saya tidak pernah komen soal sepak terjang Rocky Gerung. Kenapa? Ya karena saya merasa gak perlu komen. Namun kali ini saya merasa perlu komen soal statement Rocky bahwa kitab suci adalah fiksi. Tentu saja Rocky sudah menjelaskan panjang lebar maksud dari statementnya tersebut. Sebelumnya terjadi kehebohan mengenai puisi yang membandingkan cadar dengan konde dan azan dengan kidung.

Saya hanya ingin menguji konsistensi kelompok islamis yang bereaksi begitu cepat untuk puisi Sukmawati namun tidak bereaksi dengan puisi Rocky. Baik Sukmawati maupun Rocky sama-sama menjelaskan maksud dari statementnya, namun perlakuannya berbeda. Kenapa saya ingin menguji konsistensi ini? Karena hal inilah yang akan menjawab apakah kepentingan politik menunggangi agama atau kepentingan agama diperjuangkan melalui politik. Jika kelompok Islamis membenarkan Rocky karena dia oposan, maka saya katakan bahwa agama telah diperalat untuk kepentingan politik. Namun jika kelompok Islamis melaporkan Rocky, maka saya akui bahwa memang anda adalah pejuang agama yang sejati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here