Berpolitik di Masjid

0
330

Agama dan politik merupakan dua hal yang masih seksi untuk menjadi obrolan warung kopi baik di dunia maya maupun nyata. Isu yang hangat akhir-akhir ini adalah soal politisasi agama. Lebih spesifik lagi adalah muncul polemik tentang bolehkah membahas politik di mesjid?

Muncul gerakan atau himbauan bahwa mesjid harus jadi tempat ibadah. Muncul juga seruan sebaliknya bahwa pengajian-pengajian harus diisi oleh muatan politik. Pihak yang tidak setuju membahas persoalan politik di mesjid beralasan bahwa mesjid itu tempat ibadah. Membawa politik ke mesjid sama saja mengotori kesucian mesjid. Adapun pihak yang pro terhadap mesjid sebagai tempat berpolitik berargumen bahwa dalam sejarahnya mesjid bukan hanya tempat sholat, namun juga urusan kemasyarakatan lainnya. Kelompok ini pun menyindir kubu kontra yang juga suka memakai atribut keagamaan saat mempromosikan calonnya.

Sebenarnya berpolitik di dalam mesjid itu bisa boleh bisa juga tidak. Masalahnya politik yang seperti apa dulu? Amien Rais seorang tokoh reformasi dan guru bangsa membagi politik menjadi dua : high politics dan low politics. Beliau mendefinisikan high politics sebagai politik yang berdimensi moral serta etis. Sementara low politics adalah politics yang terlalu praktis dan cenderung nista.

Dalam konteks organisasi, Amien mencontohkan: “Bila sebuah organisasi menunjukkan sikap yang tegas terhadap korupsi, mengajak masyarakat luas untuk memerangi ketidakadilan, mengimbau pemerintah untuk terus menggelindingkan proses demokrasi dan keterbukaan, maka organisasi tersebut pada hakikatnya sedang memainkan high politics. Sebaliknya, bila sebuah organisasi melakukan gerakan manuver politik untuk memperebutkan kursi DPR, minta bagian di lembaga eksekutif, membuat kelompok penekan, mambangun di lobi, serta berkasak-kusuk untuk mempertahankan atau memperluas vested interest, maka organisasi tersebut sedang melakukan low politics.”

Jenis politik manakah yang layak untuk dilakukan di dalam mesjid? Tentu saja high politics. Mesjid jangan hanya membahas rukun Iman dan Islam saja, namun tak ada salahnya di dalam mesjid membahas tentang seruan anti korupsi. Tak ada salahnya juga khutbah jumat membahas kriteria pemimpin menurut perspektif Islam misalnya.

Yang tidak layak dilakukan di dalam mesjid adalah low politics. Dalam low politics moral dan etis sudah tak dipedulikan lagi. Contoh yang sering kita lihat sehari-hari adalah soal hinaan. Hari ini ada dua kelompok yang senantiasa berselisih, yakni cebong dan kampret. Masalahnya sebutan cebong dan kampret ini tidak sesuai dengan etika Alquran. Dalam surat Al Hujurat : 11 disebutkan wa laa tanaabazuu bil alqaab. Sayangnya low politics ini seolah sudah menjadi makanan sehari-hari bagi sekelompok orang.

Pada masa Dinasti Umayyah, sempat ada tradisi mencaci Ali bin Abi Thalib dalam setiap khutbah Jumat. Hal ini karena Ali adalah lawan politik dari Muawiyah. Sungguh ironis karena keduanya adalah muslim dan sahabat Nabi Muhammad SAW. Tradisi itu dihapuskan oleh Umar bin Abdul Azis kemudian diganti dengan membaca ayat Innallaha ya’muru bil adli wal ihsan dst.

Apa yang terjadi pada dinasti Umayyah tersebut adalah contoh low politics, yang tak kita harapkan akan terulang kembali di mesjid-mesjid kita hari ini. Namun sekali lagi, kalau high politics di bahas di dalam mesjid, why not?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here