Bercadar Tapi Memelihara Anjing

0
543

Beberapa waktu yang lalu medsos kita diramaikan dengan polemik pelarangan cadar. Setelah polemik tersebut mereda hari ini kita dihebohkan dengan seorang perempuan bercadar yang memelihara anjing liar. Seperti biasa netizen kita langsung terpelatuk baik yang pro maupun kontra.

Menurut yang pro apa yang dilakukan perempuan bernama Hesti ini sangat unik sekaligus mulia. Unik karena cadar selama ini identik dengan pemahaman Islam yang konservatif. Namun Hesti menunjukan sebuah paradoks dimana penampilannya yang konservatif namun sikapnya terhadap anjing peliharaannya sangat bertentangan dengan mainstream umat Islam. Mulia karena jarang orang yang mau melakukan apa yang Hesti lakukan.

Adapun yang kontra sangat geram sekali dengan Hesti. Menurut kubu ini perilaku Hesti justru melecehkan cadar sebagai sebuah ajaran agama. Seperti kita ketahui bersama bahwa anjing adalah binatang yang air liurnya najis dalam Islam dan memeliharanya tidak dianjurkan. Saking geramnya kubu ini lalu menuduh bahwa Hesti adalah agen yang ingin merusak Islam dari dalam. Ada juga yang menuduh Hesti aslinya adalah laki-laki. Ada juga yang menuduh bahwa Hesti cuma bersandiwara, tuduhan-tuduhan ini menyebar dengan cukup viral.

Hesti sendiri seperti yang diwawancara oleh detik menyebutkan bahwa dia sudah tidak peduli apa kata orang tentangnya. Perempuan bercadar ini fokus memelihara sedikitnya 11 anjing, 20 kucing dan beberapa hewan lain seperti musang, bebek yang dia rawat di rumahnya. Hesti sendiri agak kebingungan sekarang karena banyak media yang bertamu ke rumahnya.

Lantas bagaimanakah hukum memelihara anjing? Saya pribadi adalah orang yang takut dengan anjing pas masih kecil. Sekarang sudah gak takut tapi ya tetap tidak tertarik memelihara anjing. Bagaimana menurut Islam? Ada hadits yang menyatakan bahwa barangsiapa yang memelihara anjing maka pahalanya akan dikurangi kecuali anjing tersebut untuk berburu atau menjaga ternak. Kalau menjaga rumah bagaimana? Imam Nawawi membolehkan dengan mengqiyaskannya dengan menjaga ternak.

Jika berlandaskan dalil ini maka yang dilakukan Hesti salah menurut hadits tersebut. Dia memelihara anjing karena dia sayang binatang. Namun kita jangan lupa ada sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim bahwa ada seorang pezina yang memberi minum seekor anjing, lalu dia meninggal dan masuk surga. Hadits seperti ini lebih kepada isyarat bahwa kita jangan mudah menjudge orang lain, seorang pezina saja saat memberi minum hewan najis bisa dimasukan Allah SWT ke dalam surga.

Dua hadits di atas jika kita kita tetap menggunakan pendekatan bayani (fiqh) maka status keharaman memelihara anjing tetap makruh atau haram. Namun jika kita menggunakan pendekatan irfani (tasawuf) saya fikir tak dapat begitu saja dikatakan haram. Jangan-jangan Hesti lebih mulia di mata Allah daripada kita. Tidak ada yang tahu dan tak ada yang menjamin kan?

Selanjutnya kalau memang kita tetap berpendapat bahwa Hesti adalah salah, terus apa yang seharusnya kita lakukan? Ada reaksi ketidaksetujuan di medsos yang menurut saya berlebihan. Web semacam portal-islam membuat judul berita “Pakai Cadar Pelihara Anjing Diapresiasi, Pakai Cadar Galang Donasi Diteriaki Teroris.” Saya sejak awal tidak setuju dengan stigmatisasi apapun kepada perempuan bercadar sampai ada bukti yang membenarkannya. Saya juga faham perasaan kawan-kawan yang mungkin merasa tidak enak distigma begitu. Namun apakah pilihannya mesti jadi hitam putih? Kenapa hidup kita ini mesti terbagi menjadi cebong dan kampret sementara masih ada monyet, gajah, buaya dan hewan-hewan lainnya. Kalau saya jadi pimred portal-islam saya akan buat berita, “Cadar Itu Tidak Radikal, Buktinya Bercadar Memelihara Anjing”. Kan keren, justru Hesti ini bisa dijadikan bukti bahwa memang cadar bukanlah identitas yang menunjukan terorisme maupun radikalisme.

Tentu saja sekali lagi kita boleh tidak setuju dengan yang Hesti lakukan. Kalau begitu ya datangilah rumahnya Hesti, lalu sampaikan hujjah yang kita punya dengan baik. Syukur-syukur ternyata dia menerima dan tidak memelihara anjing, kalau dia tetap pada pendiriannya  kewajiban kita berdakwah selesai. Tinggal saling mendoakan, ini baru namanya umat Nabi Muhammad.

Kalau kita malah menuduh Hesti macam-macam, padahal kenal juga tidak, kita sibuk berkonspirasi tentang diri Hesti, nah yang begini umatnya Abu Lahab. Apalagi kalau kita gak suka sama Hesti lalu kita terror dia, ini umatnya Abu Jahal. Jadi sampeyan ini umatnya siapa?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here