Bercadar Tapi Hafal Pancasila

0
493

Akhir-akhir ini linimasa kita cukup diramaikan dengan berita pelarangan cadar di sebuah kampus negeri di kota pendidikan. Polemik pun mengemuka dengan cukup masif di media sosial. Mulai dari soal hukum cadar sampai kebebasan sipil, banyak pihak mengeluarkan pendapatnya.
Jika kita berbicara hukum cadar, maka tidak ditemukan nash yang sharih baik dalam Al Quran dan sunnah soal cadar ini. Namun para ulama 4 mazhab dalam rangka sadd dzariah memerintahkan perempuan memakai cadar.
Namun fenomena hari ini agak paradoks. Kaum yang menggunakan epistemologi ruju’ ilal quran dan sunnah banyak menggunakan cadar, padahal tidak ada dalil sharihnya. Sebaliknya kaum yang selama ini menggunakan epistemologi memahami agama harus melalui ulama banyak yg tidak setuju dengan cadar. Termasuk yang melakukan pelarangan di kampus tersebut. Bagi saya paradoks ini cukup menarik, dan perlu dikaji lebih lanjut.
Saya pribadi tidak terlalu setuju dengan penggunaan cadar, alasan saya tidak hanya persoalan teologis dan fikih, namun ada alasan praktisnya juga. Yang saya fahami menurut Rasulullah SAW aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Bagi saya hal itu sangat jelas. Kalau kemudian ada perempuan cantik lalu laki-laki banyak yang suka ya salahkan laki-lakinya yang jelalatan, jangan malah perempuannya yang disuruh bercadar. Lalu buat apa ada ayat perintah menundukan pandangan kalau pada akhirnya perempuan yang disuruh menutup wajah. Itu yang saya fahami secara fikih.
Selain itu ada alasan praktis kenapa saya tidak setuju dengan cadar. Yakni wajah itu adalah sarana kita untuk mengenal seseorang. Misalnya saya adalah Robby karena wajah saya begini. Kalau saya menutup wajah saya orang akan susah mengenali saya. Itu saja alasan praktisnya.
Walaupun saya punya pendapat pribadi namun saya tidak bisa memaksakan pendapat saya pada orang lain. Pada akhirnya saya pun menghargai kalau memang ada perempuan yang meyakini bahwa bercadar itu wajib atau sunnah. Ya mau gimana lagi? Saya kan bukan Tuhan yang bisa memaksa orang untuk mengikuti saya?
Karena itu pada dasarnya saya tidak setuju kalau ada larangan bercadar. Kata Voltaire aku mungkin tidak setuju pendapatmu, namun aku akan berjuang sampai mati agar kamu tetap dapat mengatakannya.
Menurut Tirto, alasan pihak kampus melarang adalah karena ada perempuan bercadar yang disinyalir menyebarkan faham anti pancasila dan melakukan perekrutan terhadap mahasiswi lainnya. Namun sebut saja Mawar seorang perempuan bercadar membantah dirinya anti pancasila.
Ada perempuan bercadar yang anti pancasila bagi saya mungkin saja. Namun menuduh cadar sebagai ciri anti pancasila itu adalah tindakan gegabah. Maka menurut saya orang seperti Mawar ini jangan diam, lawan stigma buruk tentang cadar. Buatlah komunitas bercadar tapi hafal pancasila. Buktikan bahwa bercadar adalah keyakinan agama yang harus dihormati bukan identitas anti pancasila. Sebarkan propaganda bahwa perempuan bercadar setia terhadap NKRI. Perempuan bercadar tapi hafal pancasila, bersatulah!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here