Baitul Arqam dan IHT ABS Bandung

0
129

Pada tanggal 3-5 Januari 2018 ABS Bandung melaksanakan kegiatan Baitul Arqam dan In House Training guna meningkatkan kapasitas dan memberikan wawasan ideologi bagi para guru dan stafnya. Kegiatan ini dilaksanakan sebelum santriwati kembali masuk ke ABS.

Kegiatan dimulai dengan pembukaan kegiatan yang dihadiri oleh seluruh peserta, fasilitator dan BPH ABS Bandung. Dalam sambutannya Pak Dede Kurniawan selaku kepala pesantren menjelaskan filosofi nama Baitul Arqam, yakni rumah perkaderan Rasulullah SAW. Diharapkan kegiatan ini juga bisa menjadi momen pembentukan kader-kader yang siap melaksanakan dakwah Islam.

Selesai pembukaan dan break sebentar, kami segera mendapatkan materi yang pertama, yakni pendidikan holistik. Yang mengisi materi ini adalah Kak Agni dari sekolah Semi Palar. Sekolah yang diasuh oleh Kak Agni termasuk yang tidak menggunakan kurikulum pemerintah, namun mengembangkan kurikulum sendiri. ABS sendiri sedang mencoba untuk mengembangkan kurikulum sendiri walau tidak sama sekali lepas dari kurikulum pemerintah. Sehari sebelumnya peserta sudah diberikan softcopy tentang pendidikan holistik yang harus dibaca.

Kak Agni mengawali materinya dengan menjelaskan relasi antara pendidik dengan peserta didik. Ada berbagai macam relasi yang terjadi dalam pendidikan kita selama ini, yang paling banyak adalah subjek objek. Pendidik menjadi subjek dan peserta didik adalah objek. Relasi ini sudah sangat lazim namun sudah tidak relevan dengan kebutuhan masa kini.

Kak Agni sedang memberikan materi

Pendidikan pada hari ini menempatkan peserta didik juga menjadi subjek pembelajaran yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan berkembang. Seorang pendidik yang baik adalah yang mendampingi tumbuh kembang peserta didiknya dengan baik. Yang paling penting adalah pendidikan hari ini adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Seorang pendidik harus menyadari sepenuhnya bahwa peserta didik adalah manusia dan bukan robot. Materi yang diberikan kak Agni sangat menarik dan mampu menciptakan iklim diskusi yang baik antara peserta dan pemateri.

Setelah beres sesi pertama, kami kemudian shalat zuhur dan makan siang. Setelah makan siang barulah kami melanjutkan kepada sesi II yang diisi oleh Dr. Hendar Riyadi. Beliau adalah aktifis Muhammadiyah yang juga menjadi dosen di UIN Bandung dan sekarang menjabat sebagai ketua STAI Muhammadiyah Bandung. Materi yang disampaikan beliau tentang Al Islam dan Kemuhammadiyahan.

Pak Hendar sedang memberikan materi

Walau biasanya siang-siang adalah waktu yang rawan karena seringkali seringkali kantuk menyerang, namun Pak Hendar berhasil membuat peserta IHT tetap fokus karena pertanyaan-pertanyaan yang dia sampaikan. Kenapa kita perlu beragama? Sebuah pertanyaan yang mendalam dan filosofis, yang tentu luput dari fikiran kita karena tersibukkan oleh rutinitas keseharian. Tentu saja macam-macam jawaban timbul dari pertanyaan ini, pada intinya adalah kita beragama agar kita selamat dan bahagia. Apapun jawabannya maka muaranya pasti kesana.

Pak Hendar kemudian memperjelas lagi bahwa menurut ahli sosiologi agama manusia ini memang makhluk yang tak berdaya dan mempunyai keterbatasan. Hal ini membuat manusia butuh sesuatu untuk menjadi pegangan. Dan pegangan yang paling baik adalah yang tak hanya mempunyai unsur fisik, namun juga metafisik. Jawabannya adalah agama. Hal ini diperkuat oleh dalil-dalil Al Quran, misalnya dalam Surat Al Balad Allah SWT berfirman bahwa manusia diciptakan dalam keadaan yang susah payah (Laqad khalaqnal insaana fi kabad).

Setelah mendapatkan jawaban kenapa kita harus beragama pertanyaan selanjutnya adalah kenapa kita harus beragama Islam? Dan apakah agama lain sudah pasti tidak selamat? Pembahasan ini cukup ngeri-ngeri sedap. Hal ini karena berkaitan dengan akidah yang selama ini kita yakini. Tentu mayoritas dari kita meyakini bahwa agama kita yang selamat dan yang lain tidak. Begitupun agama lain juga begitu. Model keberagamaan seperti ini oleh Pak Hendar disebut model geosentris, dimana agama kita sebagai pusat dan agama lain mengelilingi agama kita. Namun ada model alternatif yakni heliosentris, dimana Tuhan sebagai pusat dan agama-agama mengelilinginya. Dalam model heliosentris semua agama sama-sama mengelilingi Tuhan. Oleh karena itu agama-agama tidak perlu terjebak pada konflik yang seringkali disebabkan oleh truth claim masing-masing agama.

Lantas kenapa kita tetap memilih Islam? Pak Hendar mengatakan bahwa kita memilih Islam karena di dalamnya terdapat ajaran-ajaran yang baik. Misalnya ajaran tauhid, keadilan, musyawarah, demokrasi, kemanusiaan dll. Ajaran-ajaran ini secara eksplisit maupun implisit terdapat dalam teks-teks suci Islam. Oleh karena itu jika kita ber-Islam maka kita mengikuti agama dengan ajaran-ajaran yang luhur.

Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa kita ber-Muhammadiyah? Menurut Pak Hendar jika kita meyakini bahwa dalam agama Islam terkandung nilai-nilai luhur, maka kita harus berjuang menyebarkannya kepada orang lain. Menyebarkan Islam ini tentu lebih efektif jika dilakukan secara kolektif dibanding dengan individu, oleh karena itu maka kita membutuhkan organisasi. Organisasi yang tepat adalah Muhammadiyah. Mengapa? Karena Muhammadiyah mempunyai 5 prinsip gerakan : gerakan Islam, gerakan dakwah, gerakan tajdid, gerakan ilmu dan gerakan sosial.

Pertanyaan terakhir adalah kenapa harus ABS Bandung? Kenapa harus pendidikan Muhammadiyah? Jika kita membaca putusan resmi Muhammadiyah tentang pendidikan, maka terlihat bahwa pendidikan Muhammadiyah merupakan pendidikan yang menjunjung tinggi pengembangan karakter siswa dan memanusiakan manusia. Oleh karena itu para peserta BA dan IHT sudah tepat ketika menjadi pendidik di ABS.

(bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here