Apakah Khilafah Seindah yang Dibayangkan?

0
98

“Adalah masa Kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya (menghentikannya) apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menggigit (Mulkan ‘Adldlon), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.” (Musnad Ahmad: IV/273).

Ada dua pendapat mengenai validitas hadits di atas. Pendapat pertama mengatakan bahwa hadits tersebut lemah. Hal ini karena dalam rangkaian sanadnya terdapat seorang rawi yang bernama Habib bin Salim. Menurut Imam Al Bukhari Habib ini statusnya fiihi nazhor (perlu diteliti). Selain itu diantara 9 kitab hadits yang muktabar hanya Imam Ahmad yang meriwayatkannya. Ada redaksi lain yang mirip riwayat Imam Ath Thabraniy. Namun lagi-lagi sanadnya bermasalah karena salah satu rawinya Habib bin Abi Tsabit dikomentari Ibn Hibban dan Ibn Khuzaimah sebagai mudallis (tukang mengada-ada).

Dikisahkan bahwa Habib bin Salim membacakan hadits ini di depan khalifah Umar bin Abdul Azis. Menurut Habib yang dimaksud periode ke-4 dalam hadits itu adalah masa kekhalifahan Umar bin Abdul Azis. Jadi khilafah ala minhajin nubuwwah pertama khulafa rasyidin, mulkan adhdhan dan jabbar setelahnya, dan kembali kepada khilafah ala minhajin nubuwwah zaman Umar bin Abdul Azis. Hal ini sangat berbeda dengan tafsiran populer bahwa khilafah ala minhajin nubuwwaj adalah khulafa rasyidin, mulkan adhdhan adalah dinasti yg tidak menerapkan syariah Islam, mulkan jabbar adalah hari ini, dam setelah ini akan kembali muncu khilafah ala minhajin nubuwwah.

Pendapat kedua mengatakan bahwa hadits ini tidak lemah. Hadits ini dinilai hasan oleh Nashiruddin Al Albani, Silsilah Al Ahadits Al Shahihah, 1/8; dinilai hasan pula oleh Syaikh Syu’aib Al Arna’uth, dalam Musnad Ahmad bi Hukm Al Arna’uth, Juz 4 no hadits 18.430; dan dinilai shahih oleh Al Hafizh Al ‘Iraqi dalam Mahajjah Al Qurab fi Mahabbah Al ‘Arab, 2/17).Penilaian fiihi nazhar terhadap Habib bin Salim tidak lantas berarti membuat hadits ini lemah. Lalu walau oleh Imam Bukhari Habib dipertimbangkan, namun menurut Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani, Habib bin Salim tidaklah mengapa (laa ba`sa bihi). Menurut Ibnu ‘Adi, tak ada matan-matan hadits Habib bin Salim yang munkar (menyalahi periwayat lain yang lebih tsiqah), melainkan telah terjadi idhtirab (kerancuan) pada sanad-sanad hadits yang diriwayatkan darinya. Tetapi Abu Hatim, Abu Dawud, dan Ibnu Hiban menilai Habib bin Salim tsiqah. (Lihat Nashiruddin Al Albani, Silsilah Al Ahadits Al Shahihah, 1/8). Sayangnya saya belum menemukan klarifikasi terhadap kisah Habib menghadap khalifah Umar bin Abdul Azis.

Pendapat pertama berpendapat bahwa jarh harus didahulukan atas ta’dil. Walaupun Habib ada yang menyebutnya tsiqoh, namun karena ada yang menjarh, maka yang didahulukan adalah jarh. Sementara pendapat kedua mengatakan bahwa Imam Bukhari tidaklah menjarh Habib bin Salim. Intinya hadits ini masih diperdebatkan validitasnya. Secara kuantitas hadits ini tergolong Ahad karena hanya ada satu jalur periwayatan.

Ini baru kritik sanad lho ya, belum kalau kita telaah matannya. Maka akan timbul-timbul pertanyaan-pertanyaan yang perlu kita kaji bersama jawabannya. Anggaplah kita setuju dengan pendapat kedua bahwa hadits ini hasan. Karenanya kita bisa menjadikan hadits ini sebagai hujjah.

Pertanyaan yang akan saya ajukan adalah apa sih khilafah ‘ala minhajin nubuwwah itu? Tentu kita akan langsung berfikir bahwa khilafah ala minhajin nubuwwah adalah sistem pemerintahan yang sangat ideal dan sangat mirip dengan masa Nabi. Dalam riwayat Thabrani masa khilafah ini adalah 30 tahun. Yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw pernah menyuruh kita agar mengikuti sunnahnya dan khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk yakni 4 khalifah tadi.

Jika kita ringkas pada periode pertama Abu Bakar lebih fokus memerangi orang yang menolak membayar zakat ke Baitul Mal. Abu Bakar juga memerangi nabi palsu. Periode kedua khilafah dipimpin oleh seorang yang sangat tegas, cerdas dan sederhana, yakni Umar bin Khattab. Jika Plato mengharuskan seorang philosopher king untuk memimpin negara, maka Umar cocok dengan kriteria Plato. Umar hidup dengan sederhana walau menjabat sebagai amirul mu’minin. Umar berani berijtihad tentang beberapa masalah. Dalam pidato di mesjid, Umar menyuruh rakyatnya meluruskannya kalau dia menyimpang. Sayangnya Umar wafat dibunuh oleh orang Majusi.

Pasca Umar ahlul halli wal aqdi memilih Usman sebagai khalifah ke-3. Di sinilah awal prahara muncul, beberapa kebijakan Usman tidak disukai oleh sahabat lain. Maka mulailah timbul oposisi dan demonstrasi menentang kebijakan Usman. Tragisnya Usman bin Affan ra. wafat di tangan demonstran tersebut. Apakah hanya sampai di sana? Ternyata tidak, ada yang lebih tragis.

Al-Thabari dalam kitab Tarikh al-Umam wa al-Muluk, menyatakan: “Mayat Usman harus bertahan dua malam karena tidak dapat dikuburkan. Ia ditandu empat orang, yaitu Hakim bin Hizam, Jubair bin Math’am, Niyar bin Makram, dan Abu Jahm bin Huzaifah. Ketika ia disemayamkan untuk disalatkan, datanglah sekelompok orang Anshar yang melarang mereka untuk menyalatkannya. Di situ ada Aslam bin Aus bin Bajrah as-Saidi dan Abu Hayyah al-Mazini. Mereka juga melarangnya untuk dimakamkan di pekuburan Baqi’. Abu Jaham lalu berkata: ‘Makamkanlah ia karena Rasulullah dan para malaikat telah bersalawat atasnya.’ Akan tetapi, mereka menolak: ‘Tidak, ia selamanya tidak akan dimakamkan di pekuburan orang Islam. Lalu mereka memakamkannya di Hisy Kaukab (sebuah areal pekuburan Yahudi). Baru tatkala Bani Umayyah berkuasa, mereka memasukkan areal perkuburan Yahudi itu ke dalam kompleks Baqi. ”

Setelah wafat Usman terpilihlah ‘Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah ke-4. Ali adalah orang yang tepat di masa tidak tepat. Biar bagaimanapun peristiwa pada masa Usman berimbas pada kepemimpinan Ali. Mu’awiyah menganggap Ali lambat mengusut kasus pembunuhan Usman. Terjadilah perang Shiffin antara Ali dan Mu’awiyah. Lalu diadakanlah perundingan tahkim yang membuat Muawiyah menjadi khalifah. Hal ini membuat ada sebagian pendukung Ali kecewa dan membelot, yakni kaum khawarij. Akhirnya Ali ra. wafat di tangan Abdurrahman ibnu Muljam seorang yang sangat shaleh yang menganggap Ali dan Mu’awiyah kafir.

Setelah wafatnya Ali oleh tikaman Abdurrahman bin Muljam, Abdullah bin Ja’far memanggil Ibnu Muljam. Lalu tangan dan kakinya dipenggal, dan matanya dicungkil. Lalu ia diminta mengeluarkan lidahnya untuk dipotong. Ibnu Muljam melolong karena itu. Lalu Ibnu Ja’far bertanya: “Kami memotong tangan dan kakimu, serta mencungkil matamu, tetapi engkau tidak melolong. Mengapa engkau kini melolong?” Ibnu Muljam menjawab: “Aku melolong bukan karena takut akan kematian. Tapi aku melolong justru karena takut hidup di dunia ini tanpa dapat lagi menyebut nama Allah.” Lalu lidahnya dipotong, dan ia pun tewas. Riwayat Ibnu Sa`ad menambahkan bahwa mayatnya dibakar setelah itu. Ibnu Katsir pun menyebutkan hal serupa tanpa menyebut versi mana yang tersahih. Al-Thabari dan Ibnu Atsir hanya menyebut soal pembakaran setelah ia mati.

Sedih, jujur saya sedih membaca kisah tersebut. Biar bagaimanapun mereka semua adalah sahabat nabi, bahkan sudah termasuk yang dijanjikan surga. Mereka adalah generasi salafus saleh yang disebut sebaik-baik umat. Sayangnya konflik ini sudah tersusun rapi dalam kitab tarikh, disebut al fitnatul kubro. Dalam menyikapi ini, para ulama menyuruh kita diam, jangan komentar. Maa jaraa baina shahaabah naskut. Ada juga yang menganggap bahwa seluruh sahabat yang berkonflik adalah ijtihad, maka gak dosa walau salah. Ada yang berpendapat semua yang meninggal dalam konfik fitnah kubro adalah syahid. Ada juga yang berpendapat bahwa ada pihak yang mengadu domba. Yang jelas apa yang terjadi terjadilah, namun kita tak boleh mengurangi penghormatan kita terhadap sahabat nabi.

Jadi, apakah khilafah ala minhajin nubuwwah seindah yang dibayangkan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here