Anti-Arab vs. Anti-Barat

0
165

Saya tidak anti Arab, dan tidak akan pernah anti Arab. Bagaimana bisa anti Arab wong saya sudah belajar ilmu nahwu, sharaf, muhadatsah, muthalaah, balaghah dll. Yang berkat ilmu itu saya bisa membaca tulisan arab gundul dan menerjemahkan Al Quran tanpa lihat terjemahnya.

Saya juga tidak anti barat, bagaimana bisa anti wong dari kelas 3 SD saya belajar Bahasa Inggris kok. Dan syarat untuk dapat kuliah di luar negeri ya syaratnya harus punya skor toefl yang merupakan Bahasa orang barat.

Walaupun begitu gaya saya tidak berubah, ya gini-gini aja. Walau saya tahu Bahasa Arab, namun saya belum pernah beli gamis putih, sorban, pakai kopiah pun jarang. Walau saya bisa Bahasa Inggris, tapi saya belum pernah mengecat rambut saya agar pirang seperti orang bule.

Dalam percakapan saya pun hampir tidak pernah menggunakan akhi-ukhti, ana-antum, atau I dan you, ya pakai kata “saya” dan “kamu” aja. Justru karena saya sudah belajar ilmu tentang Arab, saya jadi tahu bahwa gamis dan batik ya hakikatnya sama saja, penutup aurat. Ana dan saya juga hakikatnya ya sama saja.

Memang pada kenyataannya symbol-symbol seperti Bahasa dan atribut terkadang mempunyai fungsi yang lebih dari sekedar media komunikasi atau asesoris semata. Ada orang yang saat dia menggunakan banyak istilah Inggris dia jadi merasa lebih intelek. Ada juga orang yang saat menggunakan istilah dan atribut Arab merasa lebih Islami. Apakah itu salah? Ya nggak donk, boleh saja, itu kan hak. Yang penting tidak merugikan orang lain.

Lain halnya dengan konteks pembelajaran pesantren, di beberapa pesantren wajib pakai Bahasa Arab dan Inggris, kalau tidak akan dihukum. Ini bagus dalam rangka pembelajaran, walau pada akhirnya nanti akan muncul Bahasa Arab dan Inggris khas pesantren yang mungkin tidak sesuai grammar namun dapat saling dimengerti antar penggunanya. Hhe.