Antara Filsafat dan Tasawuf

0
98

Sabtu kemarin kuliah sejarah peradaban ekonomi Islam periode disintegrasi khilafah menjadi kerajaan-kerajaan kecil pasca runtuhnya dinasti Abbasiyah. Namanya juga masa disintegrasi, tak ada yang patut dibanggakan dalam pranata ekonominya. Namun pada masa disintegrasi ini justru lahir dua pemikir hebat muslim yang dikenal sampai sekarang, yakni Imam Al Mawardi dengan masterpiece Al Ahkam As Sulthaniyah dan Imam Al Ghazali dengan masterpiecenya Ihya Ulumuddin.

Pak dosen Dr. Yadi Janwari kemudian bercerita mengenai Imam Al Ghazali yang pada awalnya adalah seorang filsuf, namun pada suatu saat dia mengalami titik jenuh dan berbalik ke titik sebaliknya yakni menjadi seorang sufi. Dr. Yadi bilang seorang itu kalau belajar filsafat sampai sangat mendalam seringkali malah menjadi sufi pada akhirnya.

Lalu Dr. Yadi mencontohkan dosennya dulu saat di UIN Jakarta, yakni Prof. Harun Nasution yang konon pernah mendeklarasikan diri sebagai penganut mazhab muktazilah yang sangat rasional. Mungkin karena sudah jenuh dengan mazhab muktazilah, pada masa tuanya beliau berbaiat kepada Syaikh Wafa Tajul Arifin yang terkenal dengan sebutan Abah Anom pimpinan ponpes Suryalaya Tasikmalaya yang juga mursyid tarikat Qadiriyah Naqsyabandiyah. Konon pada akhir hayatnya Prof. Harun Nasution meninggal saat akan melakukan shalat.

Untung aja saya gak terlalu mendalami filsafat, jadi kayaknya gak perlu menjadi pengkut tarekat juga. Jadi pembahasan ekonominya dimana? Itulah ciri khas kuliah ekonomi syariah di UIN Bandung, mata kuliah ekonomi malah melebar membahas filsafat dan tasawuf.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here